Minggu, 08 Juli 2012

Bagaimana bersikap dalam menghadapi cobaan (ujian)?

 
 Sesungguhnya dalam kehidupan dunia ini tidak lepas dari ujian dan cobaan, serta musibah Чαπƍ menimpa kita.

Allah ta'ala berfirman:



وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

" Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang Чαπƍ bersabar. Yaitu orang-orang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, " Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji'un ", mereka itulah yang mendapat keberkahan Чαπƍ sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk". (Al Baqarah: 155-157).

Jika kita mengaku beriman kepada Allah, tentunya kita harus kuat dalam menghadapi ujian dan cobaan, karena kita tidak akan dibiarkan saja mengatakan beriman, sehingga Allah benar-benar  menguji keimanan kita, sebagaimana Allah telah menguji orang-orang sebelum kita.

Allah Ta'ala berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
 Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ' ' Kami beriman ', sedang mereka tidak diuji? . Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang Чαπƍ benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang Чαπƍ dusta". (Al Ankabut : 2-3).

Setiap orang mempunyai cobaan dan ujiaan Чαπƍ berbeda-beda, ada Чαπƍ berupa kekurangan harta, kelaparan, fitnah dari anak dan hartanya dll.
Akan tetapi ketahuilah bahwa setiap cobaan atau ujian Чαπƍ menimpa kita, kemudian kita bersabar terhadapnya maka Allah memberikan pahala tanpa batas, sebagaimana Чαπƍ Allah jelaskan dalam surat Az-Zumar : 10
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ



" Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Чαπƍ dicukupkan pahala mereka tanpa batas. "

Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa bala` (cobaan) menimpa seorang mukmin dan mukminah pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399)
Dan juga Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ما من مسلم يصيبه أذى من مرض فما سواه إلا حط الله تعالى به سيئاته كما تحط الشجرة ورقها
Seorang muslim Чαπƍ ditimpa suatu gangguan berupa penyakit atau Чαπƍ lainnya, pasti Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon Чαπƍ menggugurkan daun-daunnya (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

Demikianlah beberapa dalil mengenai hikmah kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan.

ketika ada hal-hal Чαπƍ luput, ada kesusahan, penderitaan, kesulitan Чαπƍ menimpa, hendaknya kita tidak  bersedih hati Чαπƍ menjadikan kita berprasangka buruk kepada Allah, Чαπƍ menjadikan kita berputus asa dari rahmat Allah, Na'udzubillahi min dzalik.
Dan ketika kita diberi kesenangan, janganlah sampai terlalu gembira yang menjadikan kita sombong dan lupa daratan.

  Sepatutnya kita selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah, dan hendaknya kita yakin akan takdir Allah, dan berhusnudzon (berprasangka baik ) kepadaNya. Bahwa segala ketentuan Allah adalah Чαπƍ terbaik untuk hambaNya. Allah Maha mengetahui keadaan hambanya.

by: Ari Mardiah joban

Minggu, 01 Juli 2012

Apa hukum wanita Чαπƍ selalu pergi ke pasar-pasar untuk mengetahui barang terbaru?


Soal: Apa hukum wanita Чαπƍ terus-menerus pergi ke pasar-pasar untuk mengetahui barang terbaru?


Syaikh Shalih al-Fauzan -hafidzahullah- menjawab:
Yang dituntut dari wanita adalah menetap dirumahnya, mengerjakan pekerjaan rumah, mendidik dan mengasuhnya anak-anaknya. Karena wanita pemimpin dirumah suaminya dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
Allah Ta’ala berfirman:
( وَقَرْنَ في بُيُوتِكُنَّ )
“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian” (QS. al-Ahzab:33). Yakni menetaplah ϑί rumah dan janganlah keluar tanpa ada keperluan.
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإذَا خَرَجَتْ اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu aurat maka bila ia keluar rumah syaitan menyambutnya.” (HR. at-Tirmidzi 1183, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil:273).
Dan pergi untuk mengetahui barang-barang terbaru bukanlah merupakan suatu kebutuhan Чαπƍ membolehkan wanita keluar dari rumahnya, bahkan hal ini dapat membahayakan, terlebih pada zaman sekarang Чαπƍ banyak menyebar kejahatan.
Sumber: (المنتقى من فتاوى الفوزان: 60/8)