Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2015

Janji Allah untuk orang yang bertakwa.


1. Diberi jalan keluar dari segala urusanya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

 " Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Qs. at-Talaq: 2)

2. Diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

" Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Qs. at-Talaq: 3)

3. Diberi kemudahan dalam segala urusanya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

 "Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (Qs. at-Talaq: 4)

4. Dihapus segala kesalahannya.

5. Dilipat gandakan pahalanya.

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

" Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya."
 (Qs. at-Talaq: 5)

Jumat, 24 April 2015

Sifat-sifat orang yang bertakwa  

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam al–Quran tentang sifat-sifat orang yang bertakwa yang diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Senantiasa mengikuti jalan Allah dan RasulNya.
Allah berfirman:

 وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

   "dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (Qs. al-An'am: 153).
2. Menginfakkan hartanya baik dalam keadaan lapang atau sempit.
3. Dapat menahan amarah
4. Pemaaf
     Untuk dalil point 2-4 terdapat didalam satu ayat yaitu dalam surat Ali-Imran: 134
    Allah berfirman:

  الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

   ( "yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dalam ayat lain Allah juga berfirman bahwa pemaaf lebih mendekatkan kepada ketakwaan.

 ۚ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

"dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa (Qs. al-Baqarah: 237).

5. Takut kepada Allah sedang mereka tidak melihat-Nya.
    Allah berfirman:

 الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

"(yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Qs. al-Anbiya:49).

6. Beriman kepada yang ghaib.
7. Mendirikan shalat.
8. Beriman kepada al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya.
9. Beriman kepada hari akhir.
     Dalil untuk point ke 6-9 dalam surat al-Baqarah 2-4.
 Allah berfirman:

 ِذلكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِين* الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون* والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ 
وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُون*  

  "Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat."

10. Segera bertaubat jika melakukan kesalahan.

Allah berfirman:

 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُون

  "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Qs. Ali Imran:135).

Kamis, 26 April 2012

Keimanan sumber kebahagian


Kebahagian adalah dambaan setiap orang. Tak seorangpun yang ingin hidup sengsara.



Kebahagiaan merupakan sebuah cita-cita yang semua orang berusaha untuk meraihnya.

Lalu bagaimana meraih kebahagian yang hakiki?

Keimanan kepada Allah merupakan faktor utama dalam meraih kebahagiaan.


Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan 3 tanda kebahagian:
1. Bersyukur
2. Sabar
3. Beristighfar

keadaan seseorang akan selalu berputar, antara mendapat karunia yang melimpah, di timpa musibah atau terjerumus dalam lubang dosa.

Seorang yang beriman tatkala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah 'Azza wa jalla, kemudian dia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Jika ditimpa musibah, dia yakin 
bahwa itu semua atas kehendak Allah 'Azza wa jalla, lalu dirinya ridha dan sabar.

Dan bila pada suatu waktu ia terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah 'Azza wa jalla dan kemudian segera bertaubat dan beristighfar.

Ketiga hal tersebut menunjukan, bahwa kebahagian hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah  'Azza wa jalla.
Keimanan merupakan tempat bersandar seorang Muslim pada setiap keadaan.

Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam bersabda:


عَجَبًا لأَمْرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ ليسَ ذلكَ لأَحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ 
فكانتْ خَيرًا لهُ  رواهُ مُسْلِمٌ


" Sungguh sangat menakjubkan perkara (kondisi) seorang Mukmin. Seluruh perkara (kondisinya) baik, dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia pun bersyukur dan itu adalah terbaik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim)

Semoga kita dapat meraih kebahagian yang hakiki.

Aamiin

By: Ari Mardiah joban





Sabtu, 18 Februari 2012

Ringkasan Materi dari Kajian Чαπƍ disampaikan Prof. Dr. Abdurrozzaq Bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahumallah ϑί Masjid Darul Hijrah STAI ALI BIN ABI THALIB Surabaya ~Siapakah Wali-wali Allah?~



~Siapakah Wali-wali Allah?~
Sudah sepatutnya seorang muslim mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.
Jawaban tersebut telah  اللّه عَزَّ وَ جَلَّ jelaskan dalam firmannya surat yunus: 62-63.
ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون. الذين آمنوا وكانوا يتقون.
    “Ingatlah, sesungguhnya wali wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (QS. Yunus :62 – 63).
   Beliau -hafidzahullah- menjelaskan makna ayat diatas, bahwasanya ciri-ciri wali Allah adalah:
(الذين آمنوا‪‪(
Yaitu orang-orang yang beriman,”.
Beriman kepada Allah Ta`ala, beribadah semata-mata karenaNya (ikhlas karena Allah),
وكانوا يتقون
“Dan mereka selalu bertaqwa”
Mereka membuktikan keimanan mereka tadi dengan melakukan ketaqwaan kepada Allah Jalla wa `Alaa dengan cara melaksanakan segala perintah Nya serta mejauhi segala bentuk larangan-Nya. Serta mengikuti perintah Rasul-Nya
صلى الله عليه و سلم
dan menjauhi segala larangannya.
Asal kata “al-Wilayah” adalah al-Qurb yang artinya dekat. Adapun lawan dari kata “al-Wilayah” adalah “al-’Adawah” artinya permusuhan.
Ahlu wilayah (para wali) yakni orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan keimanan dan ketakwaan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits qudsi, hadits ini dikenal dengan “hadits wali”:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ” رواه البخاري
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, telah bersabda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam , sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Siapa yang memusuhi seorang kekasihku, maka Aku menyatakan perang kepadanya, dan tiada mendekat kepadaku seorang hambaku, dengan sesuatu yang lebih kusukai daripada melaksanakan kewajibannya, dan selalu hambaku mendekat kepadaku dengan melakukan sunah – sunah sehingga Aku sukai, maka apabila Aku telah kasih kepadanya, Akulah yang menjadi pendengarannya, dan penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya dan kaki yang dijalankannya, dan apabila ia memohon kepadaku pasti kukabulkan dan jika berlindung kepadaku pasti kulindungi” (HR. al-Bukhari).
Beliau menjelaskan dari hadits diatas kita bisa melihat, pada hakikatnya wali Allah adalah orang Чαπƍ senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan, baik dengan amalan Чαπƍ telah Allah wajibkan, maupun dengan amalan Чαπƍ sunnah. Dan Allah Subhanah wa Ta’ala telah memuliakan para wali-walinya, sehingga Allah mengumumkan barangsiapa yang memusuhi wali Allah, maka Aku menyatakan perang kepadanya, dan barangsiapa Чαπƍ diperangi oleh Allah maka sungguh dia akan merugi baik δ¡ dunia ataupun δ¡ akherat kelak.
Maka hendaklah setiap manusia untuk selalu berhati-hati untuk tidak memerangi, menyakiti, mengolok-olok wali Allah atau hamba² Allah Чαπƍ shalih. Wali Allah adalah orang Чαπƍ bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah, menegakkan sunnah, berbakti kepada orangtuanya dan selalu melakukan ketaatan² lainnya. Dan janganlah kalian mengolok-olok orang Чαπƍ selalu berbuat ketaatan serta menegakkan sunnah, karena bisa jadi orang Чαπƍ diolok-olok itu adalah orang Чαπƍ terbaik dimuka bumi.
Hendaknya kita mencintai orang-orang Чαπƍ shalih dan menyelamatkan hati kita dari iri, dengki, dan hasad.
Sesungguhnya wali Allah itu ada dua derajat.
Derajat pertama: Adalah orang Чαπƍ senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan Чαπƍ wajib dan menjauhi segala larangannya, derajat ini disebut dengan “al- Muqtasid (pertengahan)”
Derajat kedua: Lebih tinggi dari derajat pertama, adalah orang Чαπƍ senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan Чαπƍ sunnah setelah mengerjakan Чαπƍ wajib, derajat ini disebut dengan “as-Saabiquuna bil khairaat (lebih cepat berbuat kebaikan)”.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
مِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَ مِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ
“Diantara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan”. (QS. Fathir:32).
Didalam hadits qudsi diatas dijelaskan pula balasan kepada para wali Allah, bahwasanya mereka akan mendapatkan cinta Allah, dan jika Allah mencintainya, maka Allah akan selalu menuntun pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya, dan Allah senantiasa mengabulkan doa dan melindunginya. Inilah kemuliaan Чαπƍ senantiasa Allah Ta’ala berikan kepada para walinya.
Beliau menerangkan bahwa para wali-wali Allah tidak akan menganggap dirinya suci, atau menganggap bahwa dirinya adalah wali Allah. Allah Ta’ala berfirman:
فلا تزكّوا أنفسكم
.(Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci”. (QS. an-Najm:32″
Abdullah bin Abi Mulaikah seorang tabi’in telah menemui 30 sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka semua takut akan nifaq .pada dirinya
Abu Darda’ berkata: “Seandainya aku tahu satu saja dari shalatku diterima Allah Ta’ala, maka hal itu lebih baik dari dunia dan seisinya”.
Beliau -hafidzahullah- menjelaskan bahwa bukanlah syarat dari wali itu dapat menampakkan karamah diluar kebiasaan manusia. Karamah Чαπƍ paling agung adalah senantiasa istiqamah diatas agama Allah.
dapat menampakkan karamah diluar kebiasaan manusia karena hal tersebut bisa jadi dari perbuatan syaitan, seperti banyak tersebarnya khurafat dikalangan orang² awam, orang²  Чαπƍ jahil tentang seorang wali, sehingga mereka berlebih²an dalam mengaguminya, sekalipun orang tersebut tidak pernah beribadah atau melakukan ketaatan namun dia bisa disebut wali, dikarenakan memiliki kelebihan. Dan hendaklah kita selalu berhati-hati dari hal ini.
Lalu kapan seseorang disebut wali?  Ketika seorang tersebut selalu melakukan ketaatan, tidak pernah meninggalkan shalat, bahkan tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah ϑί masjid, selalu berbakti kepada orang tua, bertuturkata baik, kita bisa katakan “mudah²an dia termasuk wali Allah.”
Hendaknya kita juga berhati-hati dari khurafat Чαπƍ menyebar tentang wali Allah, Чαπƍ diantaranya menceritakan bahwa seorang wali tidak perlu berthawaf ϑί ka’bah, karena ka’bahlah Чαπƍ akan menghampirinya, atau cerita bahwa seorang wali tidak perlu berjalan untuk thawaf, padahal kalaulah kita lihat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam Чαπƍ merupakan sayyidnya para wali  saja melakukan thawaf, dan untuk melakukan thawaf Beliau Shallahu ‘alaihi wasallam melakukan perjalanan dari Madinah ke Makkah!
Menjadi wali Allah dapat dicapai dengan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan baik Чαπƍ wajib maupun sunnah, dan meninggalkan apa² Чαπƍ diharamkanNya, serta selalu berdoa kepada Allah, agar menjadikan kita sebagai walinya.
آمين  يَا رَبَّ العَـــالَمِيْنَ
Demikian Чαπƍ dapat saya ringkas dari kajian Чαπƍ beliau -hafidzahullah- sampaikan, semoga ini bisa bermanfaat, kurang lebihnya saya mohon maaf.
نسأل الله التوفيق والسداد
Diringkas oleh: Ari Mardiah Joban.
Muroja’ah: Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc.

Senin, 04 April 2011

April Mop Yang Memilukan


Ustadz Abu Ammar al-Ghoyami
Apabila ditanyakan kepada kaum muslimin apa hukum menipu, berbohong, usil yang menyakitkan hati atau menyakiti raga orang lain, tentu jawabannya adalah haram. Hal ini tentu sudah maklum.
Sekarang, tahukah Anda, saudara maupun saudariku kaum muslimin, bahwa ada suatu hari dimana berbohong, menipu dan menjaili orang lain, siapa pun, diperbolehkan? Hari April Mop jawabannya. Aneh kan? Lebih aneh lagi bila ternyata ada sebagian saudara kita kaum muslimn yang turut serta dalam even ini. Allohu yahdiihim waiyyana.
Apa Itu Hari April Mop?
April Mop, dikenal dengan April Fools’ Day dalam bahasa Inggris, diperingati setiap tanggal1 April setiap tahun. Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi leluconkepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap keluargamusuhteman bahkan tetangga dengan tujuan mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu. Di beberapa negara seperti Inggris dan Australia serta Afrika Selatan, lelucon hanya boleh dilakukan sampai siang atau sebelum siang hari. Seseorang yang memainkan trik setelah tengah hari disebut sebagai “April Mop”. Namun di tempat lain seperti Kanada, Perancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat lelucon bebas dimainkan sepanjang hari. Hari itu juga banyak diperingati di internet.(Wikipedia Indonesia).
Pada hari tersebut orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Mereka melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka, alias jail-jailan. Bila ada yang menyoal, biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop adalah hari di mana boleh dan sah-sah saja menipu siapa saja yang diinginkan, mulai dari teman, saudara, sampai orang tua sekalipun. Allohul musta’an.
Tentunya, siapa saja yang terkena target dijaili seperti ini tentu minimalnya akan terusik hatinya. Bisa saja ia akan marah, kesal, mengumpat dan semisalnya. Akhirnya ia pun terdorong untuk membalas atau melakukan hal serupa kepada orang lainnya.
Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day yang sudah jelas keburukannya, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Yang sangat disayangkan, masyarakat dengan mudahnya meniru kebudayaan Barat ini tanpa menilai terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya, mendatangkan rohmat atau justru berbuah petaka.
Sejarah April Mop
Tahukah Anda, bahwa perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kekonyolan tersebut, sesungguhnya berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan?!
Terlepas dari fersi sejarah yang berbeda, yang pasti dalam salah satu fersinya disebutkan bahwa April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah berdarah Muslim Spanyol di tahun 1487-an, atau bertepatan dengan 892 H. Sejak dideklarasikannya Islam pada abad ke- 8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad di negeri tersebut. Setelah beberapa tahun, bahkan beberapa abad berlalu Spanyol di bawah syari’at Islam, musuh-musuhpun, kaum kafir yang ada disekitar Spanyol, terus menerus berusaha menggempur benteng syari’at Islam yang kuat mewarnai sisi kehidupan masyarakat Spanyol waktu itu. Akhirnya dengan tipu daya dan kebohongan, dengan tipuan dan omong kosongnya mereka berhasil membantai ribuan kaum muslimin Spanyol hanya dalam sehari.
Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Nashrani setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day).
Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat Nashrani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara Salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka, alias jail-jailan.
Arti April Mop Bagi Umat Islam
Main jail-jailan dengan aksi tipu menipu dan bohong berbohong di hari April Mop berarti bukan sekedar main-main yang tak berarti. Ia selain sebuah tragedi berdarah yang memilukan hati setiap muslim dan muslimah, juga sebentuk dengan perbuatan maksiat dan dosa. Bisa jadi ia merupakan pelegal pelakunya sebagai seoang penipu ulung dan seorang pendusta kelas kakap. Rosululloh n\ bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hati-hatilah kalian dari berdusta. Sungguh dusta akan membawa pelakunya menuju perbuatan dosa, sedangkan perbuatan dosa itu akan membawa pelakunya menuju neraka. Dan tiadalah seorang pun yang terus-terusan berdusta dan selalu hendak berdusta selain tentunya ia akan ditetapkan di sisi Alloh sebagai seorang pendusta” (HR. Muslim no: 2607)
Bagi umat Islam, April Mop tentu tak layak diperingati. Bahkan haram diperingati. Sebab ia merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, sangat tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapa pun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka sesungguhnya ia tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.
Wailallohil musytaka. Hanya kepada-Mu, ya Alloh, kami mengadu.

Selasa, 29 Maret 2011

Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah



فضل لا إله إلا الله
Ceramah  tentang Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah Ini disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman bin Muhammad Musa Alu Nashr
dan diterjemahkan oleh Ustadz Mizan Qudsi, Lc, di  Masjid Fauzan al-Fauzan Lombok Timur
pada hari sabtu 26-03-2011, ba’da Maghrib. Mudah-mudahan bemanfaat bagi kita semua. Silahkan klik url di bawah ini.

Rabu, 09 Maret 2011

Keberadaan Dajjal


PERTANYAAN :
Apakah benar Dajjal sudah turun di Khurasan India? Syukran.
Abu Omar, 08193292xxxx
JAWABAN :
Dajjal, secara bahasa artinya pemalsu, sangat pendusta. Oleh karena itu, Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam menamakan orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah beliau dengan menyebutnya Dajjal, karena mereka adalah para pendusta besar.
Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :
hadits
Tidak akan datang kiamat,
sehingga dibangkitkan dajjal-dajjal, pembohong -pembohong besar,
yang jumlahnya mendekati tigapuluh orang,
masing-masing mengaku sebagai utusan Allâh. [1]


Tetapi kemudian kata “Dajjal” menjadi istilah bagi seorang manusia pendusta, buta sebelah matanya, mengaku sebagai Tuhan, yang akan muncul di akhir zaman mendekati hari Kiamat. Karena besarnya ujian dan musibah dengan kedatangan Dajjal ini, maka semua nabi telah memperingatkan tentang kedatangannya.
hadits
Dari Anas bin Malik radhiyallâhu'anhu, dia berkata :
'Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam telah bersabda :
“Tiada seorang nabi pun,
melainkan dia memberi peringatan (yangmenakutkan)
kepada umatnya tentang pendusta yang buta sebelah matanya.
Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya,
dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) kamu tidak buta sebelah mata-Nya.
Dan ditulis di antara dua matanya (Dajjal) Kaf, Fa` dan Ra (Kafir)”.
(HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain)


Adapun pertanyaan saudara, apakah Dajjal ini sudah muncul di Khurasan, India? Mungkin yang Anda maksudkan adalah Begawan Sri Baba dari India yang mengaku sebagai tuhan.
Sepanjang pengetahuan kami, Dajjal yang diperingatkan tersebut sekarang ini belum muncul. Karena Dajjal memiliki ciri-ciri yang telah diberitakan oleh Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam, dan kebanyakan ciri-ciri tersebut tidak ada pada orang India tersebut. Di antara ciri-ciri Dajjal adalah sebagai berikut : [2]
  1. Seorang laki-laki yang besar tubuhnya, merah (kulitnya), keriting rambutnya, buta sebelah matanya; matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol, mirip seperti Ibnul Qathan seorang laki-laki dari Khuza’ah. (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
  2. Buta matanya sebelah kanan; matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol. (HR Bukhari, Muslim)
  3. Syab (muda usia, 30-50 tahun), sangat keriting rambutnya, matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol, mirip seperti Abdul ‘Uzza bin Qathan. (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
  4. Seorang laki-laki, pendek, cara berjalannya tidak normal, keriting, buta sebelah matanya, satu matanya rata, tidak menonjol dan tidak masuk. (HR Abu Dawud, Shahihul-Jami’ush-Shaghir, no. 2455)
  5. Buta sebelah matanya, menonjol dahinya, luas atas dadanya, membungkuk. (HR Ahmad)
  6. Banyak rambutnya. (HR Muslim)
  7. Di antara dua matanya tertulis “kafir”, atau huruf kaf, fa`, ra` yang bisa dibaca oleh semua orang beriman, bisa baca tulis ataupun yang buta huruf. (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
  8. Orangnya sangat besar. (HR Muslim)
  9. Makhluk yang paling besar (fitnah/tipu daya/bencana yang ditimbulkannya) (HR Muslim)
  10. Tidak dilahirkan. (HR Muslim)
  11. Muncul dari arah timur, yaitu Khurasan. (HR Tirmidzi)

    Khurasan adalah kota yang luas zaman dahulu, awal batasnya dekat Iraq, akhir batasnya dekat India. Sekarang meliputi beberapa kota dan masuk ke beberapa negara, yaitu Iran Utara (di antaranya terkenal dengan Naisabur), Afghanistan Utara (di antaranya terkenal dengan Harah dan Balkh), daerah-daerah Turkmania (dahulu pernah masuk Uni Soviet, di antaranya terkenal dengan Marw). Dan desa-desa sekitarnya, sebelum sungai Jaihun. [3]

    Dari sini kita mengetahui bahwa India tidak masuk Khurasan, bahkan nampak bahwa mayoritas Khurasan masuk wilayah negara Iran. Wallâhu a’lam.
  12. Muncul dari tempat bernama Yahudiyah, kota Ashbahan, dengan 70 ribu orang Yahudi. (HR Ahmad, Fathur Rabbani 24/73).

    Ashbahan adalah kota yang dahulu termasuk Khurasan. Sekarang termasuk wilayah negara Iran.
  13. Dia muncul dan tinggal di bumi selama 40 hari. Sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan sisanya seperti hari-hari biasa. (HR Muslim).

    Adapun Sri Baba sekarang umurnya sudah 80 tahun, dan hari-harinya biasa.
Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat dan menjadi jelas bagi kita semua.
[1]
HR Bukhari (no. 3609), kitab al Manaqib, Bab ‘Alamatan-Nubuwwah; 
Muslim, kitab al Fitan wa Asyrathus-Sa’ah.
[2]
Lihat kitab Asyrathus-Sa’ah, halaman 278-315,
 karya Syaikh Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf al Wabil rahimahullâh.
[3]
Mu’jamul Buldan, Bab : Huruf Kha‘ dan Ra‘; Asyrathus-Sa’ah, hlm. 308;
 Kamus al Munjid.


Sumber: http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=234