Tampilkan postingan dengan label Tarbiyatul Aulad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyatul Aulad. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Februari 2011

Siapakah penanggung jawab pendidikan?


Ust Abu Ammar al-Ghoyami dan Ust Abu Hafshoh al-Buthoni
Jawaban masalah ini sudah banyak diketahui. Bahwa setidak-tidaknya ada tiga kelompok yang bertanggung jawab dalam tarbiyah yaitu kedua orang tua, guru dan masyarakat. Orang tua sebagai asal mula seorang anak dan tempat berlindungnya setiap saat, guru sebagai tempat mengambil ilmu, dan masyarakat sebagai tempat bergaul. Jikalau ketiga kelompok ini masing-masing menunaikan tugasnya dengan baik, maka sungguh akan di dapatkan kebahagiaan bagi masyarakat Islam dunia dan akhirat.Misalnya orang tua mengarahkan dan memberi qudwah, guru mendidik dan memberi ilmu, sedangkan masyarakat mengawasi dan meluruskan, maka sungguh ini adalah sebaik-baik kerjasama di atas kebajikan dan taqwa.
Di antara tiga kelompok tersebut, tidak diragukan lagi bahwa yang paling bertanggung jawab dalam hal tarbiyah adalah orang tua (bapak ibu), oleh sebab itu Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut mereka secara khusus dalam haditsnya:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ وَيُوْلَدُ عَلَى اْلِفطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidaklah seorang anak kecuali ia lahir dalam keadaan fithroh lalu bapak ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Dan fakta yang ada di lapangan tarbiyah-pun menunjukkan hal itu. Oleh sebab itu maka apabila seorang anak menyimpang karena pengaruh guru yang menyeleweng, maka orang tua tidak semata- mata menyalahkan guru karena mereka berhak mencari guru yang lain yang istiqomah. Atau apabila anak menyimpang karena pengaruh lingkungan maka tidak semata-mata menyalahkan lingkungan atau masyarakat, karena mereka berhak apabila menginginkan kebaikan buat anak-anak mereka untuk mencari lingkungan yang mendukung keistiqomahan mereka, karena sebagai muslim hidup di dunia bukan semata-mata untuk menjaga dan memelihara tanah tumpah darahnya akan tetapi untuk mewujudkan ubudiyyah(penghambaan) kepada Alloh subhanahu wata’ala di manapun ia berada. Gambaran kenyataan ini, akan kita dapatkan dari adanya pertikaian yang sering terjadi antara kedua orang tua, yaitu tatkala sang bapak melihat anaknya nakal maka dengan spontan menyalahkan ibu, dan sebaliknya ibu menyalahkan bapak, karena mereka saling mengharap kebaikan dalam tarbiyah. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُكُمْ رَاعٍ وَكُلُكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai tanggung jawab tentang kepemimpinan nya.”
Berkata Ummu Abdillah al-Wadi’i radhiyallahu anha dalam kitabnya Nashihati lin Nisa’: “Harus adanya kerjasama antara kedua orang tua dalam mentarbiyah anak-anak mereka dan seandainya salah satu dari keduanya melalaikan tugasnya maka akan terjadi kekurangan pada sisi tersebut “.
Nah, oleh karenanya, semestinya para pentarbiyah ini bersatu padu, satu langkah, agar terlahir dari madrasah tarbiyah kita, para generasi yang benar-benar mengenal nilai-nilai tarbiyah, mengamalkan Islam dan memahaminya. Generasi yang memahami bahwa agama bukan hanya yang penting tidak keluar dari Islam dan masuk agama Nasrani atau agama-agama lainnya, namun generasi yang mempunyai kepedulian dan semangat baja untuk mempelajari Islam, berpegang teguh dengan hukum-hukum syari’at Islam, berilmu, beramal dan berdakwah. Generasi yang memperhatikan aqidah Islamiyyah, menegakkan sholat dan lain-lain, dan juga menaruh perhatiannya terhadap urusan keduniaan, kemajuan dan perkembangan zaman, tetapi tidak berlomba mengejar dunia semata dengan mengabaikan agama.
Semoga Alloh subhanahu wata’ala memberi taufiq kepada kita semua untuk bisa memahami makna dan pengertian tarbiyah dengan baik, mengamalkan, mendakwahkan dan sabar di atasnya, sehingga Alloh subhanahu wata’ala akan memberikan hasil tarbiyah yang baik lagi sempurna kepada kita dan generasi kita di masa mendatang. Amin.

Selasa, 30 November 2010

Televisi menjadi Orang tua ketiga




Ada dua fakta televisi yang tidak diperdebatkan lagi. Pertama, televisi merupakan faktor perusak dan penghancur di sebagian besar program acaranya. Kedua, televisi merupakan faktor pembangun di beberapa program, namun ini sangat minim. Itulah opini para ibu di beberapa negara yang menjawab angket pendukung penulisan buku ini. Saya menemukan 85% para ibu berpendapat bahwa televisi merupakan faktor negatif yang memengaruhi pendidikan anak. Mereka mengatakan bahwa televisi sangat berbahaya, bahayanya melebihi menfaatnya, perusak perilaku anak, dan penyebab munculnya problematika anak. Sementara itu, para ibu yang lainnya berpendapat bahwa televisi merupakan suatu kebutuhan, namun penggunaannya harus dengan beberapa persyaratan tertentu. Disini, kita membahas bahaya televisi karena kita sedang membahas televisi sebagai pengaruh negatif dalam pendidikan anak.
Bahaya Televisi terhadap Anak
Selama menelaah buku-buku yang berbicara seputar pengrah televisi terhadap anak, saya menemukan banyak penelitian yang menjelaskan bahaya televisi yang diklasifikasikan dalam beberapa bagian, diantaranya: bahaya dari sisi keberagaman anak, bahaya dari sisi perilaku anak, bahaya dari sisi kesehatan, dan bahaya dari sisi kemasyarakatan. Berikut ini beberapa bahaya yang paling tampak.
1) Televisi dan Agama
  • Tidak sedikit program televisi yang menyuguhkan acara anak yang merupakan hasil impor dari negara-negara Barat, yang dapat merusak fitrah keimanan anak kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Terlebih lagi, ada program acara anak yang menceritakan adanya tuhan dengan nama tertentu, seperti bernama “Tuhan” Zella (Godzila) sang penyelamat manusia dari kejahatan. Ada cerita tentang peperangan di luar angkasa; menggambarkan adanya musuh manusia di planet lain yang dapat menghancurkan bumi. Acara tersebut menggambarkan alam semesta dan kehidupan seakan-akan sebuah dongeng, jauh dari gambaran islami tentang alam semesta, kehidupan, dan manusia. Kebanyakan program acara tersebut menceritakan tentang alam semesta yang besar tanpa ada kendali dari kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Acara ini justru menceritakan bahwa alam semesta ini dikendalikan oleh dua kekuatan: kekuatan jahat dan kekuatan bagi yang saling berebut kekuasaan, padahal sebenarnya hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang kuasa mengatur dan mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini. Contoh (buruk yang bertentangan dengan prinsip keimanan ini adalah) film yang menggambarkan akal di sentral alam semesta ini dan akal itulah sumber peraturan alam semesta ini[1].
  • Bila kita perhatikan program acara tersebut, kita dapat menemukan bahwa sebagian besar acara anak itu tidak sesuai dengan ajaran agama kita.
Contohnya, acara anak “Hai Simsim, bukalah!” Acara ini merupakan terjemahan dari film Amerika. Meskipun program acara ini lebih sedikit efek negatifnya bagi anak, tetapi memiliki beberapa unsur negatif. Akibat pengaruh negatif program acara anak ini, salah seorang anak yang menonton acara tersebut bersujud kepada boneka agar mengabulkan semua permintaannya![2]
2) Televisi dan Perilaku Anak
  • Secara umum, televisi dapat membuat anak –dengan menyempatkan diri untuk menontonnya- berkepribadian negatif, menyebabkan anak menjadi bodoh, kurang peduli, kurang peka, dan dapat menyebabkan anak melakukan tindak anarkis, jauh dari sifat kasih sayang[3].
  • Anak menjadi korban iklan perdagangan yang acapkali mengandung norma-norma negatif bagi para pemirsanya, seperti sifat tamak, mubadzir, saling membanggakan diri, tidak peduli suka menguasai, bertindak anarkis, dan berusaha untuk menarik perhatian lawan jenis. Banyak iklan yang menayangkan orang telanjang, padahal iklan seperti ini mendapatkan kritik di negara-negara Barat sendiri![4] Terlebih lagi iklan-iklan seperti itu menarik simpati anak untuk membeli produk yang terkadang berbahaya bagi kesehatan anak![5]
  • Penayangan informasi internasional maupun nasional tentang para artis dan atlet sebagai bintang dan pahlawan, hal ini dapat mendorong anak untuk mengagumi dan mengidolakan mereka dan tidak mengetahui para bintang dan pahlawan sebenarnya, orang-orang yang terkemuka dalam sejarah, ilmu pengetahuan, dan perjuangan, khususnya di negerinya sendiri, juga dalam sejarah Islam.[6]
  • Para dokter ahli menilai bahwa televisi merupakan sumber bahaya bagi perilaku anak yang memiliki kecenderungan seksual.[7] Televisi juga berperan sebagai pembangkit diri naluri seksual pada anak.[8]
  • Televisi dapat mencetuskan sifat anarkis (kekerasan) pada jiwa anak atau menambah kenakalan anak. Ada penelitian yang menjelaskan bahwa 70% orang tua mencela tindakan anarkis anak yang disebabkan oleh cerita-cerita dan tayangan kriminal secara brutal di televisi atau disiarkan di radio.[9] Tayangan tentang tindakan kriminal dan brutal tersebut mendorong anak yang tidak memiliki kecenderungan bersikap anarkis untuk mencoba dan menirunya, juga dapat menambah kenakalan pada anak yang memiliki kecenderungan sikap anarkis.[10] Anak yang sering menonton acara televisi yang mengandung unsur tindakan anarkis, kecenderngannya untuk bertingkah nakal menjadi lebih tinggi daripada anak yang tidak menontonnya.[11]
3) Televisi dan Bahaya Kesehatan Anak
  • Duduk dalam waktu lama di depan televisi dapat menyebabkan bahaya di punggung, sama seperti bahayanya membawa barang berat.
  • Berlebihan dalam mengisi muatan informasi pada susunan saraf anak dengan kondisi cahaya yang menyilaukan akan menyebabkan anak mengidap penyakit yang dikenal dengan sebutan epilepsi televisi. Penyakit itu akan menjadi bertambah parah bila anak masih sangat kecil![12]
  • Televisi dapat mempersempit waktu anak untuk bermain, khususnya permainan yang melatih kemampuan daya kreativitas, dan mempersingkat waktu tidur anak.[13] Juga berdampak negatif bagi indera pendengaran dan penglihatan anak.[14]
  • Menurut kesehatan, anak kecil di bawah usia dua tahun sangat berbahay menonton televisi.
4) Bahaya Televisi terhadap Daya Berpikir Anak
Sebagian besar acara televisi untuk anak-termasuk acara program pendidikan-tidak mampu mengembangkan potensi kecerdasan anak karena mayoritas acara tersebut menyuguhkan jawabab/solusi praktis. Hal ini melemahkan potensi anak untuk berpikir.[15]
5) Televisi dan Keluarga
Televisi dapat menjauhkan hubungan di antara individu keluarga. Sebagian keluarga ada yang tidak berkumpul bersama kecuali ketika menonton sinetron dan film. Kebersamaan seperti ini tidak mengandung unsur interaksi antarindividunya, juga membuat anak tidak leluasa dalam berbuat dan bersikap dengan kedua oran tua tercinta.
Prinsip-prinsip yang Ditawarkan untuk Menjauhkan Anak dari Bahaya Televisi
  • Jauhkan mengizinkan anak menonton televisi lebih dari satu jam per hari. Adapun anak yan masih menyusui ASI (anak di bawah usia dua tahun), dokter menyarankan agar ketika menyusui, ibu tidak memposisikan anak berhadapan dengan televisi karena pertumbuhan fungsi otak anak masih belum sempurna.[16]
  • Jadikanlah apa yang ditonton anak sebagai kesempatan bagi orang tua untuk menajarkannya; perbuatan mana yang benar dan yang salah.[17]
  • Berikanlah kepada anak kegiatan social di dalam atau di luar rumah dan berikanlah hiburan pengganti.
  • Penting sekali bagi orang tua untuk memberikan contoh kepada anak supaya tidak menonton program acara televisi yang tidak bermanfaat dan bertentangan dengan agama.
  • Janganlah menggunakan televisi sebagai alat untuk menenangkan anak, atau untuk memberikan ganjaran atau hukuman. Menurut persaksian para ibu-yang turut menjawab angket yang disebarkan- ada di antara mereka yang menjadika tontonan televisi sebagai cara untuk memberikan ganjaran atau hukuman bagi anak!
  • Tanamkanlah pada diri anak untuk menghargai waktu melalui ucapan dan praktik agar anak tidak menghabiskan waktu di depan televisi.
  • Pastikanlah anak meminta izin terlebih dahulu sebelum menghidupkan televisi, tentunya setelah orang tua membatasi program acara televisi apa saja yang boleh ditonton anak dan menentukan waktu untuk menonton; selama tidak lebih dari satu jam. Yang terpenting lagi, biasakanlah anak menonton televisi sambil duduk.
  • Berikanlah hadiah per minggu bagi anggota keluarga yang paling jarang menonton televisi dalam seminggu.
  • Hendaknya memperhatikan syarat-syarat kesehatan dalam menonton televisi, seperti minimal jarak antara televisi dan penonton sejauh enam kaki (l.k. dua meter), layar TV sejajar dengan pandangan mata atau di bawahnya, dan ruang tempat menonton haru terang untuk menetralisasi cahaya yang memancar dari layar televisi.
Ditulis ulang dari Ensiklopedi Pendidikan Anak Muslimkarya Hidayatullah binti Ahmad,penerbit Fikr.

[1] Al Ijhazu ‘ala at-Tilfaz hlm. 132-133.
[2] Al-Isykaliyah al-Muashirah fi Tarbiyat ath-Thifl al-Muslim, hlm. 25, dengan beberapa penyeusaian.
[3] A-I’lam al-Idzaiy wa at-Tilifizyuniy hlm. 245-246.
[4] Abna-una wa Lughat Kut-Syi wal al Kat-yib hlm. 54-55.
[5] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 77.
[6] Ahammiyah alI’lam fi al-Islam, majalah Nadwa ath-Thalib hlm. 10; ath-Thifl al-Muslim Baina Manafi’ at-Tilifizyun wa Madharrihi hlm.146 dan seterusnya; Nazharah Islamiyah li al-Insani wa al-Mujtama’I Khila al-Qarni Rabi’i ‘Asyara hlm. 33.
[7] At-Tilifizyun Hal Yutiru al-Athfal, intenet, islam online.
[8] Al-Ijhazi alaa at-Tilfaz hlm. 121.
[9] Al-I’lam wa ar-Risalat at-Tarbiyah hlm. 83-84
[10] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 91 dengan penyesuaian.
[11] ath-Thifl al-Muslim Baina Manafi’ at-Tilifizyun wa Madharrihi hlm. 125; Tanmiyah al-Maharati al-Ijabiyah hlm. 63.
[12] Athfaluna wa at- Tilifizyun hlm. 10.
[13] Hal Yashbahu at-Tilfaz Badilan li Hikayah al-Jaddah hlm. 34; At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 104; Dalil al-Walidain ila Tansyiati ath-Thifl hlm. 229.
[14] A-I’lam al-Idzaiy wa at-Tilifizyuniy hlm. 343; al-Abts al-Mubasyir hlm. 65.
[15] At-Tilifizyun Jalisun Sayyi-un li al-Athfal, internet; islam online.
[16] At-Tilifizyunu Baina al-Hadam wa al-Banana-I hlm. 195-196
[17] At-Tilifizyunu wa Bina adh-Dhamir, internet, islam online. Ar-Ru’yah al-Islamiyah li ‘Ilam ath-Thifl hlm. 107