Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2015

Ciri orang yang mendapat ampunan Allah.

1. Jika berbuat kesalahan segera bertaubat dan beristighfar.

 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُون 

" Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui ". (Qs.Ali Imran:135)

2. Mukmin yang ta'at, benar dan khusyu'.
3. Sabar.
4. Suka bersedekah.
5. Berpuasa.
6. Memelihara kehormatanya.
7. Banyak berdzikir.
    Semua ciri ini (no. 2-7) terdapat dalam firman Allah:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا "

 "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar ". (Qs. al-Ahzab:35).

8. Berhenti dari kekafiran atau perbuatan maksiat.

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ 


 " Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu". (Qs. al-Anfaal: 38)

9. Takut kepada Allah.

 يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ 

" Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar ".(Qs. al-Mulk:12)

10. Senantiasa beramal shalih.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۙ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

" Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar ". (Qs. al-Maidah:9)

Rabu, 29 April 2015

Janji Allah untuk orang yang bertakwa.


1. Diberi jalan keluar dari segala urusanya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

 " Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (Qs. at-Talaq: 2)

2. Diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ

" Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Qs. at-Talaq: 3)

3. Diberi kemudahan dalam segala urusanya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

 "Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (Qs. at-Talaq: 4)

4. Dihapus segala kesalahannya.

5. Dilipat gandakan pahalanya.

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

" Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya."
 (Qs. at-Talaq: 5)

Senin, 27 April 2015

™✎ Si Pemalu


Wanita yang pemalu
yang menutup auratnya
serta tidak berhias
bukan berarti karena dia tidak tau
bagaimana cara berhias
Malah sebaliknya,
dia bahkan lebih mengerti
lebih pandai berhias
akan tetapi dia mengetahui
kapan dia berhias!
dimana dia berhias!
dan untuk siapa dia berhias!
itulah cermin keimananya.
dia malu jika dia
melakukan maksiat kepada Allah

Karena Rasulullah -Shallallahu ' alaihi wasallam-
bersabda:

فإِنَّ الحياءَ مِنَ الإِيمانِ
" Sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan. "
(Muttafaqun 'alaih)

Selasa, 14 April 2015

Mengapa Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- senantiasa meminta perlindungan dari hutang?

Diantara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأثَمِ وَالـمَـغْــرَمِ

(Allahumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghromi)


“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang.”

Ada seorang sahabat bertanya kepada beliau:
 “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan (kepada Allah) dari lilitan hutang (dengan membaca doa di atas)?”

Beliau menjawab:

إن الرجل إذا غرم حدث فكذب ووعد فأخلف

“Sesungguhnya apabila seseorang terlilit hutang, jika dia berbicara, maka (biasanya) dia berdusta. Dan jika dia berjanji, maka (biasanya) dia ingkari.”
(HR. Al-Bukhari no. 798)

Senin, 13 April 2015

Adakah batasan usia dalam menjaga pandangan?  

Sering kita melihat simbol untuk 18+ atau X under 18+
yang istilah ini di buat untuk menunjukan film dewasa atau semacamya.
Yang tentunya terdapat hal-hal yang diharamkan untuk dilihat.
Jika kita memperhatikan simbol ini, kita akan menyadari bahwa ternyata simbol itu menunjukkan diperbolehkannya orang dewasa untuk melihat hal-hal yang diharamkan untuk dilihat, padahal di dalam agama islam tidaklah demikian. Kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan ini berlaku untuk semua usia, tidak ada pengecualian terlebih orang dewasa.

Perhatikan firman Allah Ta'ala:
 قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُون
...وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ 

" Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat* Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya..."
(QS. An-Nur:30-31).

Jadi tak ada istilah 18+ (untuk dewasa) bagi seorang muslim.
Ingatlah semua yang kita lakukan akan ada pertanggung jawabannya.
Ingat pula bahwa Allah yang memberikan kita penglihat tentu mampu pula untuk mencabutnya dari diri kita -wa na'udzubillah-.
Maka berhentilah dari melihat sesuatu yang diharamkanNya.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari perbuatan maksiat.


Instagram/Twitter: @arijoban

Selasa, 03 Februari 2015

Pelajaran Berharga Untukku Dari Wanita Pembawa Botol Air Minum

Pelajaran Berharga Untukku Dari Wanita Pembawa Botol Air Minum

Suatu hari ketika duduk di sebuah masjid, melintaslah di hadapanku seorang wanita yang ditangannya penuh dengan beberapa botol air minum.
Sosok wanita itu telah menarik perhatianku, mataku tertuju padanya, kulihat diapun sedang mengambil beberapa botol air minum lagi dari beberapa orang tua yang sedang duduk di masjid.

Dalam hatiku terbesit, yang dia bawa sudah banyak, tapi dia masih mau menerimanya. Selang beberapa lama wanita itu melintas lagi di hadapanku, kali ini aku melihat botol yang dibawanya sudah penuh semua dengan air, kulihat dia membagi-bagikan botol itu, ternyata dibagikan kepada pemiliknya. Botol yang dia bawa bukan hanya miliknya, namun milik sebagian saudarinya sesama muslimah. Lalu aku memperhatikan, ternyata jarak antara tempat duduknya ke tempat air itu lumayan jauh, Entah mengapa mata ini tidak lepas memperhatikan sosok wanita itu.

Setelah wanita itu sampai di tempat duduknya, aku mendapatkan kembali pelajaran berharga darinya, ternyata hanya satu botol miliknya, kemudian sambil mengangkat botol miliknya itu dan membawa beberapa gelas plastik wanita itupun berkata kepada saudari-saudarinya sesama muslimah: "Siapa yang haus? Siapa yang haus?"
Sepintas terlihat olehku bahwa yang dilakukan wanita itu suatu perbuatan yang sepele, tapi sungguh ini merupakan kebaikan yang luar biasa. Karena memberi minum merupakan sedekah yang paling utama.

Terdapat dalam hadits mengenai hal itu

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ, إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ, أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الْمَاءُ. فَحَفَرَ بِئْرًا, وَقَالَ: هَذا لِأُمِّ سَعْدٍ

Dari Sa’ad bin Ubadah radhiallahu 'anhu berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat, bolehkah aku bersedekah dengan meniatkan pahala untuknya?” Beliau bersabda: “Ya.” Ia (Sa'ad) bertanya: “Sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Air.” Lalu ia menggali sumur dan mengatakan, “Ini untuk ibunya Sa’ad.” (Hadis hasan dengan beberapa penguatnya, diriwayatkan Abu Daud (1681), Ibnu Majah (3684), Ibnu Hibban (3337), Ibnu Khuzaimah (2497) dan An-Nasai (VI/254).

Ditambah dengan hadits lain, hadis ini tentu tidak asing lagi bagi kita, yaitu tentang kisah seseorang yang memberi minum seekor anjing, yang denganya Allah berterima kasih dan mengampuni dosanya, inipun menunjukkan akan keutamaan orang yang memberi minum.

Dari Abu Hurairah radhiyllahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ «فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »

“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Kebaikan yang diberikan kepada tiap makhluk hidup ada pahalanya. (HR. Al-Bukhari (2363) dan Muslim (2244).

Sungguh apa yang dilakukan wanita Pembawa botol minum itu -Barakallah fiiha- menjadi pelajaran berharga bagiku, karena tidak pernah terpikir olehku melakukan hal itu, yang ternyata dapat mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Sebagai pengingat diri ini: Janganlah kita meremehkan sekecil apapun kebaikan itu. Karena kita tidak tau kebaikan mana dari kita yang Allah terima. Dan semangatlah berbuat kebaikan, di mana kita  berada dan kapan saja.

By: Ari Mardiah Joban
Muroja'ah: Ust. Fuad Hamzah Baraba', Lc

Senin, 13 Oktober 2014

Harapan Dari Seorang Ibu

Tiada kebahagian yg lebih berharga dari seorang ibu, selain melihat anaknya bahagia.

Betapa senangnya seorang ibu jika melihat senyum diwajah anaknya.

Betapa senangnya hati ibu jika anaknya bahagia, terlebih jika dia bisa bahagia di dunia maupun akhirat.

Tidak ada seorang ibu yg menginginkan anaknya bersedih.

Bahkan terkadang seorang ibu lebih memilih lebih baik dia sakit, jika harus melihat anaknya sakit.

Orang tua akan senantiasa memilih yang terbaik untuk anak-anaknya, karena kebahagian anaknya, kebahagian dia pula.

Seorang ibu tidak menginginkan apa2 dari anaknya, melainkan prilaku baik dan bakti dari anak2nya.

Anakku, aku hanya bisa selalu berwasiat dan mengingatkanmu agar selalu bertaqwa kepada Allah, karena ini kunci kebahagian di dunia dan akhirat.

Karena keinginan terbesarku adalah selalu bisa bersamamu baik di dunia maupun akhirat.

Ingatlah, jagalah Allah, karena Allah akan senantiasa menjagamu.

Hanya itulah keinginanku wahai anakku.

Semoga engkau senantiasa mengingatnya, baik semasa hidupku maupun setelah aku tiada.

By: Ummu Ahmad Ari Mardiah Joban

Versi Inggris:

A MOTHER's HOPE TO HER CHILDREN

There is nothing more precious for a Mother than to see the happiness of her children.

How happy a Mother to see a smile on her children’s face

How happy the heart of a Mother to know her children are happy, especially if the children happy in this world and hereafter.

There is no Mother wants to see her children in grieve.

Even sometimes a Mother will sacrifice to be hurt rather than her children be hurt

Parents will always choose the best for their children because the happiness of the children are also the happiness of the parents.

A Mother will not want anything from her children except good behaviour and children’s devotions.

O my children…I can only give testament and reminds you to always have taqwa to Allah (fear Allah), because this is the key of happiness in this world and here after.

As my biggest hope to always be with you in this world and hereafter.

Remember Be Mindful of Allah and Allah will protect you.

That is the only hope i want O my children..

May you always remember this, either I am still here or when I have gone…

Translate by ferna/ummu harun

Selasa, 19 November 2013

Dalam Kesendirian




Dalam kesendirian 

apa yang kita perbuat?

Dalam kesendirian

terkadang timbul berbagai perasaan, ada rasa takut? Cemas? Gelisah?

Dalam kesendirian

terkadang kita berusaha mencari teman yang bisa menemani, entah itu orang, hp, buku atau yang lainnya.

Pernahkah kita merenung dalam kesendirian, akan nasib kita kelak?

Kesendirian kita dialam kubur, tanpa ada satupun yang dapat menemani kita.
Tiada suami/istri, anak, bapak, ibu dan yang lainya.
Dalam kesendirian itu kita berharap ada yang senantiasa menemani kita.
Kelak....
Ketika semua telah pergi meninggalkan kita dalam kesendirian, hanya amal perbuatan kitalah yang akan menemani.

Kita berharap amal kebaikanlah yg senantiasa menemani kita.
Maka beramallah selagi kesempatan itu ada. 
Sebelum semua terlambat dan sia-sia.

Ya Allah bimbinglah kami dijalanMu, mudahkanlah kami dalam melakukan ketaatan kepadaMu, dan agar kami istiqomah di jalamMu, aamiin.

Ummu Ahmad Ari Mardiah Joban

Senin, 18 November 2013

Nasehat ummi tuk ananda Чαπƍ dilanda asmara


Nasehat ummi tuk ananda Чαπƍ dilanda asmara

Anakku...
Ummi tau kamu sedang jatuh cinta perasaan cinta itu pasti dialami setiap manusia
akan tetapi, manusia itu berbeda2 dalam menyikapi
orang yang sedang jatuh cinta pasti akan mengikuti apa saja Чαπƍ diperintahkan orang yang disayangnya. 
Kalau orang Чαπƍ sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaanya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih Чαπƍ pertama, 
ia pun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu daripada pertemuan dengan Allah Yang Maha Kuasa,
lebih dari itu,angan-angannya untuk selalu dengan sang kekasih lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah.


Apakah ananda cinta kepada Allah? 
Jika cinta kepada Allah maka jauhilah segala larangannya, karena larangan Чαπƍ Allah perintahkan kita untuk menjauhinya itulah Чαπƍ terbaik untuk diri kita,karena Allah Чαπƍ menciptakan kita, tentu Allah lebih tau мαηα  Чαπƍ terbaik untuk kita

Orang yang mengaku cinta kepada Allah, maka ia akan selalu mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Orang Чαπƍ beriman semua anggota tubuhnya akan tunduk patuh pada perintah Allah.

Anakku.... 
Cinta bisa membuat bahagia atau membawa petaka
Janganlah terlena dengan cinta Чαπƍ semu.
Karena cinta Чαπƍ semu hanyalah sesaat.
Raihlah cinta Чαπƍ hakiki karena itulah cinta Чαπƍ abadi.

By: Ummu Ahmad Ari Mardiah Joban 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 08 Juli 2012

Bagaimana bersikap dalam menghadapi cobaan (ujian)?

 
 Sesungguhnya dalam kehidupan dunia ini tidak lepas dari ujian dan cobaan, serta musibah Чαπƍ menimpa kita.

Allah ta'ala berfirman:



وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

" Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang Чαπƍ bersabar. Yaitu orang-orang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, " Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji'un ", mereka itulah yang mendapat keberkahan Чαπƍ sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk". (Al Baqarah: 155-157).

Jika kita mengaku beriman kepada Allah, tentunya kita harus kuat dalam menghadapi ujian dan cobaan, karena kita tidak akan dibiarkan saja mengatakan beriman, sehingga Allah benar-benar  menguji keimanan kita, sebagaimana Allah telah menguji orang-orang sebelum kita.

Allah Ta'ala berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
 Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ' ' Kami beriman ', sedang mereka tidak diuji? . Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang Чαπƍ benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang Чαπƍ dusta". (Al Ankabut : 2-3).

Setiap orang mempunyai cobaan dan ujiaan Чαπƍ berbeda-beda, ada Чαπƍ berupa kekurangan harta, kelaparan, fitnah dari anak dan hartanya dll.
Akan tetapi ketahuilah bahwa setiap cobaan atau ujian Чαπƍ menimpa kita, kemudian kita bersabar terhadapnya maka Allah memberikan pahala tanpa batas, sebagaimana Чαπƍ Allah jelaskan dalam surat Az-Zumar : 10
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ



" Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Чαπƍ dicukupkan pahala mereka tanpa batas. "

Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa bala` (cobaan) menimpa seorang mukmin dan mukminah pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399)
Dan juga Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ما من مسلم يصيبه أذى من مرض فما سواه إلا حط الله تعالى به سيئاته كما تحط الشجرة ورقها
Seorang muslim Чαπƍ ditimpa suatu gangguan berupa penyakit atau Чαπƍ lainnya, pasti Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon Чαπƍ menggugurkan daun-daunnya (HR. Al- Bukhari dan Muslim)

Demikianlah beberapa dalil mengenai hikmah kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan.

ketika ada hal-hal Чαπƍ luput, ada kesusahan, penderitaan, kesulitan Чαπƍ menimpa, hendaknya kita tidak  bersedih hati Чαπƍ menjadikan kita berprasangka buruk kepada Allah, Чαπƍ menjadikan kita berputus asa dari rahmat Allah, Na'udzubillahi min dzalik.
Dan ketika kita diberi kesenangan, janganlah sampai terlalu gembira yang menjadikan kita sombong dan lupa daratan.

  Sepatutnya kita selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah, dan hendaknya kita yakin akan takdir Allah, dan berhusnudzon (berprasangka baik ) kepadaNya. Bahwa segala ketentuan Allah adalah Чαπƍ terbaik untuk hambaNya. Allah Maha mengetahui keadaan hambanya.

by: Ari Mardiah joban

Rabu, 13 Juni 2012

Inilah Nasihatku Untuk Orang Syi’ah


Diringkas dari kitab Hadzihi Nashiihati Ilaa Kulli Syi’I, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafidzohulloh Ta’ala oleh Abu Ahmad Fuad Hamzah Baraba, Lc.
Para pembaca sekalian berikut ini adalah ringkasan nasihat yang disampaikan Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafidzohulloh Ta’ala dalam kitab beliau yang berjudul Hadzihi Nashiihati Ilaa Kulli Syi’i. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
HADIAH
Untuk setiap orang Syi’ah yang hati dan pikirannya merdeka, mencintai kebenaran dan kebaikan, menginginkan ilmu dan pengetahuan. Saya persembahkan kalimat singkat ini, dengan harapan mau membacanya, dengan meyakini bahwa saya sedang menyampaikan sebuah nasihat kepadanya, sebagaimana saya meyakini demikian.
PENDAHULUAN
Dengan menyebut nama Alloh, segala puji hanya bagiNya, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh, Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabat beliau.
Wa ba’du; Sebelumnya, terus terang saja, yang saya tahu tentang Syi’ah ahlu bait hanyalah sekelompok umat Islam yang berlebih-lebihan dalam mencintai ahlu bait dan mendukung ahlu bait, menyelisihi Ahlus Sunnah dalam sebagian cabang-cabang syari’ah berdasarkan takwil yang dekat atau jauh. Karena itu saya sangat marah bahkan merasakan sakit hati, ketika ada sebagian saudara menyebut orang-orang Syi’ah sebagai orang fasik, bahkan terkadang menuduh mereka keluar dari Islam. Namun perasaan saya ini tidak bertahan lama setelah seorang saudara menyarankan kepada saya untuk mengkaji buku-buku Syi’ah untuk bisa mendapatkan keterangan yang jelas mengenai mereka. Akhirnya kupilih kitab al-Kafi, pedoman mereka dalam beragama. Dan sayapun menelaahnya, akhirnya saya mendapati kenyataan-kenyataan yang membuat saya harus memaafkan orang yang menyalahkan saya karena sikap santun saya terhadap orang-orang Syi’ah, dan melarang saya untuk berkompromi dengan mereka karena saya berharap akan bisa menghilangkan pertentangan yang memang selama ini ada di antara Ahlus Sunnah dengan kelompok yang mengaku beragama Islam ini.
Di bawah ini saya sebutkan beberapa kenyataan ilmiah yang disarikan dari buku pegangan terpenting orang-orang Syi’ah dalam menetapkan aliran mereka. Saya berharap setiap orang Syi’ah sudi memperhatikan ini dengan penuh keikhlasan dan obyektivitas, baru setelah itu menarik kesimpulan tentang madzhabnya dan keyakinannya terhadap madzhab tersebut. Jika kesimpulan berujung pada benarnya madzhab dan sahnya memeluk madzhab tersebut (Syi’ah), maka setiap orang Syi’ah silakan tetap memeluk madzhabnya. Namun bila kesimpulan berakhir pada sesat, rusak serta buruknya menganut madzhab tersebut, maka wajib atas setiap orang Syi’ah –sebagai nasihat dan deni menyelamatkan dirinya- untuk (kembali) meninggalkan dan berlepas diri darinya, untuk memegang teguh al-Qur’an dan sunnah Rosululloh shollallohu ‘alahi wa sallam yang dianut oleh jutaan umat Islam lainnya.
Saya berlindung  kepada Alloh Ta’ala dari seorang muslim yang telah jelas kepadanya kebenaran, namun ia tetap terus menerus mempertahankan kebatilan yang dianutnya, karena sikap jumud dan taklid buta, fanatisme golongan, atau mempertahankan keuntungan duniawi, sehingga ia tetap hidup dengan menipu dirinya sendiri, menempuh jalan kemunafikan dan kepalsuan, sehingga menyesatkan anak-anaknya, saudara-saudaranya, dan generasi yang datang sesudahnya, menyelewengkan mereka dari kebenaran dengan kebatilan yang tetap dianutnya, menjauhkan mereka dari sunnah dengan bid’ah yang dilakukannya, dan menjauhkan dari Islam yang benar dengan madzhab yang keji.
Saya berdoa semoga Alloh Ta’ala menunjukkan kebenaran kepada Anda, membantumu untuk menganutnya dan member kekuatan kepada Anda untuk melaksanakannya.
Sesungguhnya tiada Ilah yang berhak untuk disembah selain Alloh Ta’ala, dan tiada Yang Maha Berkuasa selain dariNya.
HAKIKAT PERTAMA
Dengan menyebut nama Alloh, segala puji bagiNya, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh, Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabat beliau.
Sesungguhnya yang menetapkan kenyataan ini menegaskan dan mewajibkannya untuk Anda, wahai orang Syi’ah, adalah ucapan penulis buku al-Kaafi yang menyebutkan dalam Bab I: Sesungguhnya para imam ‘alaihimus salam mempunyai seluruh kitab-kitab suci yang diturunkan dari Alloh Ta’ala. Mereka mengerti semua kitab itu sekalipun bahasanya berbeda-beda. Penulis menyebutkan dalilnya yaitu dua hadits yang bersambung sampai Abu Abdillah bahwasanya ia membaca Injil, Taurat, dan Zabur dengan bahasa Siryani.
Maksud pengarang al-Kaafi dari ucapannya ini sudah jelas, bahwa ahlul bait dan Syi’ah mereka adalah pengikut para imam ‘alaihimus salam, tidak perlu lagi kepada al-Qur’an, karena mereka mempunyai pengetahuan tentang kitab-kitab suci umat-umat terdahulu. Ini merupakan langkah besar dalam memisahkan Syi’ah dari Islam dan kaum muslimin, karena tidak diragukan lagi bahwa siapa saja yang meyakini tidak membutuhkan al-Qur’an dari segi manapun berarti telah keluar dari agama Islam dan lepas dari jama’ah kaum muslimin.
Bukankah mempelajari kitab-kitab yang telah diselewengkan dan dimansukh , menaruh perhatian besar terhadapnya, dan mengamalkan isinya, merupakan bukti kebencian kepada al-Qur’an yang menyatukan umat Islam dengan akidah, hukum-hukum, dan adab-adabnya sehingga menjadi satu umat?
Bukankah benci terhadap al-Qur’an merupakan salah satu bentuk murtad dari agama Islam?
Bagaimana boleh membaca kitab-kitab suci yang telah diselewengkan dan dimansukh,sementara ketika sahabat Umar memegang sebuah lembaran Taurat saja Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dengan keras seraya mengatakan, “Bukankah aku datang kepada kalian dengan al-Qur’an yang suci!” Jika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak senang ketika mengetahui sahabat Umar melihat selembar isi Taurat, apakah masuk akal bila salah seorang dari kalangan ahlul bait mengumpulkan kitab-kitab suci terdahulu, menerima, dan mempelajarinya dengan bahasanya yang bermacam-macam, kenapa? Karena membutuhkan ataukah karena ada tujuan tertentu? Demi Alloh, jelas bukan untuk ini dan itu, melainkan hal ini pasti kebohongan para pengikut batil atas diri keluarga Rosululloh, untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
Terakhir kali, yang perlu diketahui oleh setiap orang Syi’ah bahwa meyakini tidak membutuhkan al-Qur’an, kitab Alloh Ta’ala yang dijagaNya dengan dihapal dalam hati kaum muslimin, tidak berkurang dan tidak bertambah meski satu katapun, dan hal itu tidak akan terjadi selamanya. Karena Alloh Ta’ala telah berjanji akan menjaganya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr: 9)
Hendaknya setiap orang Syi’ah mengetahui bahwa keyakinan tidak membutuhkan kepada al-Qur’an, atau kepada sebagian  dari al-Qur’an dalam keadaan apapun, berarti telah murtad dari Islam, pelakunya tidak boleh lagi mengaku sebagai orang Islam dan bagian dari kaum muslimin.
HAKIKAT KEDUA
Keyakinan bahwa al-Qur’an tidak dikumpulkan dan dihapal oleh seorang sahabatpun, hanya Ali dan para imam ahlul bait semata yang menghapalnya. Keyakinan ini dinyatakan dengan tegas oleh pengarang al-Kaafi berdalil dengan perkataannya dari Jabir ia berkata, “Saya mendengar Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata, ‘Tidak ada seorang manusiapun yang mengaku ia telah menghapal seluruh al-Qur’an kecuali ia adalah seorang pendusta. Tiada seorangpun yang mengumpulkan dan menghapalnya sebagaimana saat turun, kecuali Ali bin Abi Tholib dan para imam sesudahnya’.”
Sekarang, ketahuilah wahai orang Syi’ah –semoga Alloh Ta’ala menunjukkan Anda dan saya kepada agama yang benar dan jalan yang lurus- , bahwa keyakinan seperti ini yaitu meyakini tidak ada kaum muslimin yang mengumpulkan dan menghapal al-Qur’an selain para imam ahlul bait, keyakinan ini adalah keyakinan yang batil. Tujuan dari pembuat keyakinan ini adalah mengkafirkan kaum muslimin selain ahlul bait dan pendukung mereka. Cukuplah hal ini sebagai sebuah kerusakan, kebatilan dan kejahatan. Na’udzu billah Ta’ala. Perhatikanlah penjelasan berikut.
  1. Ini berarti tuduhan dusta bagi setiap orang yang mengaku menghapal al-Qur’an atau mengumpulkannya dalam sebuah mushaf, seperti Utsman bin Affan, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud ‘ dan ratusan sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam lainnya. Menuduh para sahabat sebagai para pendusta berarti telah menuduh mereka fasik dan menganggap ‘adaalah (keadilan) mereka telah gugur. Ini jelas tidak akan dikatakan oleh ahlul bait. Yang mengatakan hal seperti ini hanyalah musuh-musuh Islam dan kaum muslimin, demi membuat fitnah dan perpecahan.
  2. Keyakinan ini berarti menganggap kaum muslimin sesat, kecuali Syi’ah ahlul bait. Karena orang hanya beramal dengan sebagian al-Qur’an, tidak diragukan lagi telah kafir dan tersesat, karena ia tidak beribadah kepada Alloh Ta’ala sesuai yang disyariatkan oleh Alloh Ta’ala, karena boleh jadi sebagian al-Qur’an yang belum dikumpulkan oleh kaum muslimin itu memuat masalah akidah, ibadah, adab, dan hukum-hukum.
  3. Konsekuensi dari keyakinan ini adalah menganggap dusta firman Alloh Ta’ala , mendustakan Alloh Ta’ala jelas sebuah kekufuran.
  4. Mungkinkah al-Qur’an hanya diketahui oleh ahlul bait dan pengikut mereka saja ?! Bukankah ini berarti memonopoli dan merampas rahmat Alloh Ta’ala, dan seharusnya ahlul bait Nabi mustahil seperti itu? Ya Alloh, sesungguhnya kami benar-benar mengetahui bahwa Ahlul Bait RosulMu berlepas diri dari kedustaan ini. Maka, laknatlah orang yang berdusta dan berbohong atas nama mereka !
  5. Konsekuensi dan keyakinan ini, hanya kelompok Syi’ah semata yang berada di atas kebenaran dan menegakkan kebenaran. Karena hanya merekalah yang mempunyai al-Qur’an secara lengkap, sehingga mereka bisa beribadah sesuai dengan cara yang disyariatkan oleh Alloh Ta’ala. Adapun kaum muslimin selain mereka adalah sesat, karena tidak mendapatkan bagian dari al-Qur’an dan petunjuk al-Qur’an.
Wahai orang Syi’ah, kedustaan seperti ini tidak akan dilakukan oleh orang yang berakal sehat, apalagi oleh orang yang mengaku beragama Islam dan bagian dari kaum muslimin. Peran ahlul bait dalam mengumpulkan dan menghapal al-Qur’an tak jauh berbeda dengan peran kaum  muslimin lainnya, maka bagaimana bisa dikatakan tidak ada yang menghimpun dan menghapal al-Qur’an selain ahlul bait, dan bagaimana mungkin dikatakan, barangsiapa yang mengaku menghimpun atau menghapal al-Qur’an berarti ia seorang pendusta!
HAKIKAT KETIGA
Ahlul bait dan Syi’ah menguasai mukjizat para Nabi. Hal ini ditegaskan oleh pengarang al-Kaafi dengan perkataannya: dari Abu Basir dari Abu Ja’far ‘alaihis salam, ia berkata: Amirul Mukminin ‘alaihis salam keluar pada suatu malam yang gelap gulita lantas berkata, “Urusan penting, urusan penting, sedang malam gelap gulita. Imam keluar keluar kepada kalian dengan baju Nabi Adam, di tangannya ada cincin Nabi Sulaiman, dan tongkat Nabi Musa.” Pengarang al-Kaafi juga menyebutkan dari Abu Hamzah dari Abu Abdillah ‘alaihis salamberkata: Saya mendengarnya mengatakan, “Kami mempunyai lembaran-lembaran wahyu Nabi Musa, kami mempunyai tongkat Nabi Musa dan kamilah pewaris para Nabi.” Wahai Syi’ah, keyakinan ini menuntut Anda (orang-orang Syi’ah) beberapa konsekuensi yang sangat rusak dan keji. Anda dan setiap orang yang masih waras tidak mempunyai pilihan selain untuk berlepas diri dan tidak mengakuinya.
HAKIKAT KEEMPAT
Keyakinan bahwa ahlul bait dan Syi’ah mempunyai ilmu-ilmu kenabian dan ketuhanan. Keyakinan ini bersumber dari apa yang disebutkan oleh pengarang kitab al-Kaafi dengan perkataannya: dari Abu Bashir berkata: Saya masuk kepada Abu Abdillah ‘alaihis salam.Saya mengatakan, “Sesungguhnya Syi’ah Anda menceritakan bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengajarkan seribu bab ilmu dan darinya Ali bias membuka seribu bab ilmu.” Abu Abdillah mengatakan, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan seribu bab, dengan masing-masing bab ia membuka seribu bab.” Saya katakana: Abu Abdillah melanjutkan, “Wahai Abu Abdillah, kami mempunyai al-Jami’ah. Tahukah mereka, apakah al-Jami’ah itu?” Saya balik bertanya, “Memangnya apa al-Jami’ah itu?” Ia menjawab, “Sebuah lembaran yang panjangnya tujuh puluh hasta dengan ukuran hasta Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Rosululloh mendiktekannya kepada Ali, sementara Ali menulisnya dengan tangan kanannya seluruh hal yang halal dan haram, juga setiap yang dibutuhkan oleh manusia sampai urusan kutu dan lalat.” Saya katakan, “Demi Alloh, ini sebuah ilmu.” Ia menjawab, “Ya, inilah ilmu.” Ia terdiam sesaat lalu berkata, “Kami juga mempunyai al-Jafr. Tahukah mereka, apakah al-Jafritu? Sebuah wadah dari kulit, di dalamnya ada ilmu para Nabi, washiy (wasiat) dan ulama terdahulu dari kalangan Bani Israil.” Saya katakan, “Ini sebuah ilmu.” Ia menjawab, “Ya, inilah ilmu.” Ia terdiam sesaat lalu kembali mengatakan, “Kami mempunyai mushaf Fathimah, tahukah mereka apakah mushaf Fathimah itu?” Saya bertanya, “Ya, apakah mushaf Fathimah itu?” Ia menjawab, “Sebuah mushaf, di dalamnya ada tiga kali lipat seperti al-Qur’an. Demi Alloh, dalam mushaf Fathimah tidak ada satu hurufpun dari isi al-Qur’an!” Saya katakan, “Demi Alloh, ini sebuah ilmu.” Ia menjawab, “Ya, memang ini sebuah ilmu.” Ia terdiam sesaat, lalu berkata, “Kami mempunyai ilmu tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat.”
Jelas, dari keyakinan rusak seperti ini, kesimpulannya tak lain adalah sebagai berikut.
  1. Merasa tidak butuh dengan al-Qur’an, ini merupakan kekafiran yang nyata.
  2. Meyakini bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan ahlu bait dengan ilmu-ilmu dan pengetahuan yang tidak beliau ajarkan kepada kaum muslimin lainnya. Ini adalah menuduh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berkhianat, dan menuduh beliau berkhianat adalah kekafiran yang  nyata yang tidak bias dibantah lagi.
  3. Menganggap Ali berdusta, di mana dalam riwayat yang shohih, ia mengatakan, “Rosululloh tidak mengkhususkan kami ahlul bait, dengan sesuatupun.” Menuduh sahabat Ali berdusta, hukumnya seperti menuduh orang lain berdusta, yaitu sebuah perbuatan haram.
  4. Berdusta atas nama Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ini termasuk dosa yang paling besar dan paling keji di sisi Alloh Ta’ala. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia mengambil tempatnya di neraka.”
  5. Berdusta atas nama Fathimah, dengan menyatakan bahwa Fathimah mempunyai mushaf khusus yang isinya tiga kali lipat dari isi al-Qur’an, dan tidak satu hurufpun yang ada dalam mushaf Fathimah berasal dari al-Qur’an.
  6. Orang yang meyakini keyakinan ini, bukanlah seorang muslim dan tidak bisa dianggap bagian dari umat Islam, karena Syi’ah hidup dengan ilmu, pengetahuan, dan pedoman hidup yang berbeda sekali dengan umat Islam.
  7. Terakhir, pantaskah kedustaan dan kekejian seperti ini dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam, agama Alloh Ta’ala yang tidak akan menerima agama selainnya?
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(QS. Ali ‘Imron:85)
Karena itu, wahai orang Syi’ah, mari berdoa bersamaku agar kita semua selamat dari kesesatan ini, Ya Alloh, kami berlepas diri kepadaMu dari apa yang dilakukan oleh para pembohong yang berbohong atas namaMu, atas nama RosulMu dan Ahlul Bait RosulMu yang bersih. Kami berlepas diri kepadaMu dari para pembohong yang ingin menyesatkan hamba-hambaMu, merusak agamaMu dan memecah belah persatuan umat Nabi dan RosulMu Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.
HAKIKAT KELIMA
Meyakini bahwa Musa al-Kadzim telah menebus dosa orang-orang Syi’ah dengan dirinya. Pengarang al-Kaafi menyebutkan ini dengan mengatakan: Sesungguhnya Abu Hasan Musa al-Kadzim –yaitu imam ketujuh dari dua belas imam kaum Syi’ah- berkata: Alloh Azza wa Jalla murka kepada kaum Syi’ah, maka Alloh memberiku pilihan apakah diriku atau mereka. Maka aku menjaga mereka dengan diriku.
Sekarang, wahai orang Syi’ah, apa konsekuensi dari cerita yang mereka wajibkan kepadamu untuk meyakininya, setelah mereka mewajibkanmu untuk mengimani dan membenarkan isi lafadz-lafadznya? Bukankah Musa al-Kadzim rahimahullah Ta’ala rela dirinya dibunuh demi menebus dosa-dosa pengikutnya, agar Alloh mengampuni dosa mereka dan memasukkan mereka ke surge tanpa hisab?
Perhatikanlah wahai orang Syi’ah, semoga Alloh Ta’ala menunjukkanku dan Anda kepada keyakinan yang benar, ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhaiNya. Perhatikanlah kedustaan ini, ucapan ini tidak lain adalah kedustaan karena sangat menyelisihi kebenaran, sangat jauh dari kenyataan dan kejujuran. Yang di antaranya:
  • Berdusta atas nama Alloh dengan menyatakan bahwa Alloh Ta’ala mewahyukan kepada Musa al-Kadzim bahwa Alloh Ta’ala memurkai kaum Syi’ah, bahwa Alloh member pilihan kepadanya untuk memilih dirinya atau pengikutnya, maka ia menebus dosa-dosa pengikutnya dengan nyawanya. Ini jelas sebuah kedustaan atas nama AllohTa’ala. Alloh Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Dan  siapakah yang lebih zholim daripada orang yang mengadakan kedustaan terhadap Alloh. (QS. al-An’am: 93)
  • Berdusta dengan mengatas namakan Musa al-Kandzim, padahal demi Alloh, Musa al-Kadzim berlepas diri dari kedustaan                   tersebut.
  •  Meyakini kenabian Musa al-Kadzim. Demi Alloh, Musa al-Kadzim rohimahulloh bukan Nabi dan bukan Rosul. Padahal sudah diketahui bahwa kaum muslimin telah sepakat, siapapun yang meyakini kenabian seseorang setelah wafatnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, berarti telah kafir, karena jelas-jelas mendustakan firman AllohTa’ala:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup nabi. (QS. al-Ahzab: 40)
  •  Keyakinan Syi’ah sama dengan keyakinan Nasrani dalam urusan salib dan penebusan dosa. Orang-orang Nasrani meyakini bahwa Isa menebus dosa umat manusia dengan dirinya. Mereka meyakini bahwa Isa rela disalib demi menghapus dosa-dosa mereka dan sebagai penebus dari kemurkaan dan adzab Alloh Ta’ala. Orang Syi’ah juga meyakini hal serupa. Mereka meyakini bahwa Musa al-Kadzim diberi pilihan oleh AllohTa’ala antara pengikutnya dihancurkan atau dirinya dibunuh. Musa al-Kadzim rela dibunuh demi menebus kaum Syi’ah dari kemurkaan dan adzab Alloh Ta’ala. Jadi, akidah orang-orang Syi’ah dan Nasrani sama. Orang-orang Nasrani jelas mereka adalah orang-orang kafir berdasarkan nash al-Qur’an. Apakah orang Syi’ah rela bila diri mereka kafir setelah sebelumnya beriman?
HAKIKAT KEENAM
Meyakini bahwa para imam Syi’ah mempunyai kedudukan yang sama dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dalam hal kema’suman, wahyu, ketaatan dan lain-lain, kecuali dalam masalah istri. Apa yang halal untuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, tidak halal untuk mereka.
Keyakinan yang menempatkan para imam Syi’ah sederajat dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam ini, disebutkan oleh pengarang al-Kaafi dari dua riwayat. Riwayat ini menegaskan bahwa Alloh Ta’ala telah mewajibkan manusia untuk mentaati para imam Syi’ah secara mutlak (ketaatan penuh tanpa batas), sebagaimana Alloh Ta’ala memerintahkan ketaatan kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Riwayat ini juga menegaskan bahwa para imam Syi’ah menerima wahyu dan menerima berita dari langit pagi dan sore. Dengan demikian, mereka adalah para Nabi dan Rosul seperti Nabi dan Rosul lainnya, tidak ada bedanya sama sekali. Di mana meyakini ada seorang Nabi yang mendapat wahyu setelah wafatnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam adalah sebuah perbuatan murtad dan kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.
SubhanAlloh, bagaimana orang Syi’ah yang tertipu ini bisa rela dengan akidah yang dibuat-buat seperti ini? Akidah yang wajib diyakininya sehingga mereka (Syi’ah) hidup sebagai orang kafir yang jauh dari agama Islam, dengan cara ia meyakini kebatilan ini karena menginginkan iman dan Islam serta meraih kemenangan dengan keduanya.
Ya Alloh, potonglah tangan-tangan para durjana pertama yang memotong mereka dariMu dan menyesatkan mereka dari jalanMu.
HAKIKAT KETUJUH
Keyakinan akan murtad dan kafirnya para sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam setelah wafatnya beliau, kecuali ahlul bait dan sedikit sekali dari kalangan sahabat, seperti Salman, ‘Amar, dan Bilal.
Keyakinan ini hamper-hampir disepakati oleh pembesar-pembesar Syi’ah, baik dari kalanganfuqoha (ahli fikih) maupun ulama mereka. Dan hal ini jelas-jelas disebutkan dalam kitab-kitab mereka, adapun apa yang tidak disebutkan secara jelas itu merupakan taqiyah(berpura-pura) yang wajib, menurut mereka.
Dalam kitab Roudhotul Kafi halaman 202: Dari Hanan dari ayahnya dari Abi Ja’far berkata, “Manusia murtad (keluar dari Islam) sepeninggal Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam kecuali tiga orang: mereka adalah al-Miqdad, Salman, dan Abu Dzar,” sebagaimana tercantum dalam tafsir ash-Shofi –kitab yang termasyhur dan termulia, dan paling mu’tabar (terkenal) di kalangan Syi’ah- terdapat riwayat-riwayat yang menguatkan keyakinan ini, bahwa para sahabat Rosululloh telah murtad setelah wafatnya beliau, kecuali ahlul bait dan sedikit sekali dari kalangan sahabat (yang tidak dikafirkan) seperti Salman, ‘Amar, dan Bilal rodhiyallohu ‘anhum.
Wahai Syi’ah, Apakah masuk akal, menghukumi kafir dan murtadnya para sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam? Padahal mereka adalah pendukung dan penolong agamanya, dan pembawa syariatnya, rodhiyallohu ‘anhum. Di mana Alloh menjaga agama ini dengan sebab keberadaan mereka.
Katakan wahai Syi’ah, bahwa dibalik semua itu ada maksud dan tujuan yang tersembunyi (?). Yaitu ingin menghapuskan Islam dan menghilangkannya dari muka bumi ini.
Dan terakhir, nasihat ini betul-betul tulus demi ukhuwah Islamiyah dan kewajiban untuk menasihati untuk Alloh, kitabNya, dan RosulNya serta para pemimpin kaum muslimin dan orang awamnya. Inilah yang mendorongku untuk memberikan nasihat ini dengan harapan kepada Alloh Ta’ala agar melapangkan dadamu, dan memberikan hidayah menuju kebahagiaan dunia dan akhiratmu.
Kesejahteraan mudah-mudahan dilimpahkan kepada para Rosul, dan segala puji hanya bagi Alloh semesta alam.
Majalah Adz Dzakhiirah Vol. 8 No. 12 Edisi 66 1432 / 2010

Sabtu, 09 Juni 2012

MENCINTAI KARENA ALLAH

Betapa indah jika seorang muslim saling mencintai saudaranya karena Allah. Hubungan Чαπƍ dijalin atas dasar cinta inilah Чαπƍ akan kekal, kuat dan kokoh, karena mereka saling tulus murni mencintai karena Allah. Itulah cinta Чαπƍ terlepas dari segala asas manfaat, dan materi.





Itulah cinta suci Чαπƍ menyebabkan kaum muslimin dapat merasakan manisnya iman. Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُن فِيهِ وَجَدَ بِهِن حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَب إِلَيْهِ مِما سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحب الْمَرْءَ لاَ يُحِبهُ إلا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النارِ

   “Tiga hal yang apabila ada pada diri seseorang, niscya ia akan merasakan manisnya iman:
 (1) Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya,

 (2) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah, 
     (3) ia enggan untuk kembali kepada kekufuran -setelah Allah menyelamatkannya darinya-sebagaimana ia enggan apabila dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muttafaqun 'alaihi).

Orang Чαπƍ saling mengasihi karena Allah, baginya kemuliaan, kebanggaan, kehormatan saat Allah mengumpulkan mereka pada hari kiamat dalam naungan-Nya.


عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : ( إن الله يقول يوم القيامة : أين المتحابون بجلالي ؟ اليوم أظلهم في ظلي يوم لا ظلَّ إلا ظلِّي ) رواه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu berkata:  Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam bersabda; Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat:
"Dimanakah orang Чαπƍ mencintai karena keagungan-Ku, pada hari ini Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku, di hari tiada naungan kecuali naungan-Ku". (HR.Muslim)

Semoga kita saling mencintai karena Allah, sehingga kita dapat berkumpul baik didunia, maupun diakhirat kelak dalam naungan Allah Ta'ala...

by: Ari Mardiah Joban

Sabtu, 21 April 2012

♥ BERSIKAP kepada MUKMIN ♥


Imam Yahya bin Mu'adz Ar-Razi (wafat 258H di Naisabur) rahimahullah bekata: 
"Hendaknya orang mukmin mendapatkan 3 (tiga) perlakuan darimu: 

. bila engkau tidak memberikan MANFAAT kepadanya,
jangan mendatangkan MUDHARAT kepadanya; 

. bila engkau tidak mem-BAHAGIA-kannya,
maka jangan membuatnya SEDIH; dan

 jika engkau tidak MENYANJUNGNYA,
maka engkau jangan MENCELANYA."

(Shifatush Shafwah 4/91 karya Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah)

Sabtu, 18 Februari 2012

Jalan keluar dari musibah


 

وَ لَرُبَّ نَازِلَةٍ يَضِيقُ لَهَا الفَتَى
            ذَرْعًا, وَعِنْدَ اللّهِ مِنْهَا المَخْرجُ

 
Sungguh berapa banyak dari pemuda Чαπƍ tidak mampu menghadapi sebuah musibah,
Padahal Allah telah menyediakan jalan keluar baginya.



ضَاقَتْ فَلَمَّا اسْتَحْكَمَتْ حَلَقَاتُهَا
          فَرَجَتْ, وَكُنْتُ أَظُنُّهَا لاَ تَفْرِجُ

 
 Musibah itu membuat sempit, namun tatkala ia kuat menghadapinya
terbukalah kesempitan itu, padahal aku menyangka tidak bisa keluar dari musibah yang menimpa.


صَبْرًا جَمِيْلًا مَا أَقْرَبَ الفَرَجَا
          مَنْ رَاقَبَ فِي الأُمُوْرِ نَجَا

 
 Bersabarlah engkau, sungguh alangkah dekatnya jalan keluar untukmu (yang sedang susah),
Orang Чαπƍ selamat adalah orang Чαπƍ dalam setiap urusannya merasa ϑίawasi olehNya.


مَنْ صَدَقَ اللّه لَمْ يَنَلْهُ أَذًى
          وَمَنْ رَجَاهُ يَكُوْنُ حَيْثُ رَجَا



Siapa saja yang yakin dan percaya kepada Allah, ia tidak akan tertimpa marabahaya
Dan siapa saja Чαπƍ mengharap kepadaNya, ia akan memperoleh seperti apa Чαπƍ ia harapkan dariNya.

(Dinukil dari kitab Diwan Imam asy-Syafi'i: 1/29)