Tampilkan postingan dengan label Faedah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faedah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2015

Ciri orang yang mendapat ampunan Allah.

1. Jika berbuat kesalahan segera bertaubat dan beristighfar.

 وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُون 

" Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui ". (Qs.Ali Imran:135)

2. Mukmin yang ta'at, benar dan khusyu'.
3. Sabar.
4. Suka bersedekah.
5. Berpuasa.
6. Memelihara kehormatanya.
7. Banyak berdzikir.
    Semua ciri ini (no. 2-7) terdapat dalam firman Allah:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا "

 "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar ". (Qs. al-Ahzab:35).

8. Berhenti dari kekafiran atau perbuatan maksiat.

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ 


 " Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu". (Qs. al-Anfaal: 38)

9. Takut kepada Allah.

 يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ 

" Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar ".(Qs. al-Mulk:12)

10. Senantiasa beramal shalih.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۙ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

" Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar ". (Qs. al-Maidah:9)

Selasa, 14 April 2015

Mengapa Rasulullah -صلى الله عليه وسلم- senantiasa meminta perlindungan dari hutang?

Diantara doa yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأثَمِ وَالـمَـغْــرَمِ

(Allahumma innii a’uudzu bika minal ma’tsami wal maghromi)


“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang.”

Ada seorang sahabat bertanya kepada beliau:
 “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sering memohon perlindungan (kepada Allah) dari lilitan hutang (dengan membaca doa di atas)?”

Beliau menjawab:

إن الرجل إذا غرم حدث فكذب ووعد فأخلف

“Sesungguhnya apabila seseorang terlilit hutang, jika dia berbicara, maka (biasanya) dia berdusta. Dan jika dia berjanji, maka (biasanya) dia ingkari.”
(HR. Al-Bukhari no. 798)

Senin, 13 April 2015

Adakah batasan usia dalam menjaga pandangan?  

Sering kita melihat simbol untuk 18+ atau X under 18+
yang istilah ini di buat untuk menunjukan film dewasa atau semacamya.
Yang tentunya terdapat hal-hal yang diharamkan untuk dilihat.
Jika kita memperhatikan simbol ini, kita akan menyadari bahwa ternyata simbol itu menunjukkan diperbolehkannya orang dewasa untuk melihat hal-hal yang diharamkan untuk dilihat, padahal di dalam agama islam tidaklah demikian. Kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan ini berlaku untuk semua usia, tidak ada pengecualian terlebih orang dewasa.

Perhatikan firman Allah Ta'ala:
 قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُون
...وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ 

" Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat* Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya..."
(QS. An-Nur:30-31).

Jadi tak ada istilah 18+ (untuk dewasa) bagi seorang muslim.
Ingatlah semua yang kita lakukan akan ada pertanggung jawabannya.
Ingat pula bahwa Allah yang memberikan kita penglihat tentu mampu pula untuk mencabutnya dari diri kita -wa na'udzubillah-.
Maka berhentilah dari melihat sesuatu yang diharamkanNya.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari perbuatan maksiat.


Instagram/Twitter: @arijoban

Sabtu, 11 April 2015

Lima sedekah yang terhapus (tidak akan diterima). 


Lima sedekah yang terhapus (tidak akan diterima).

  1. Sedekah yang diungkit-ungkit.
  2. Sedekah karena riya (ingin dilihat).
  3. Sedekah dari sesuatu yang buruk.
  4. Sedekah orang kafir.
  5. Sedekah karena terpaksa.


  1. Sedekah yang diungkit-ungkit.

   (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ )

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima),seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. ." (QS. Al-Baqarah: 264).

2. Sedekah karena riya

Ayat diatas juga merupakan dalil bahwa riya dapat menghapus pahala sedekah, juga firman Allah تعالى

 (وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا)

   "Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya." (QS. An-Nisa:38).

 3.Sedekah dari sesuatu yang buruk

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ)    
"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS.Al-Baqarah: 267)

4&5. Sedekah orang kafir dan sedekah karena terpaksa.

   وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ

 "Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa). (QS. At-Taubah:54).

Disarikan dari buku "Infaq al-Amwaal fii al-Kitab wa as-Sunnah"
by: Ari Mardiah Joban.


IG/twitter:@arijoban

Selasa, 03 Februari 2015

Pelajaran Berharga Untukku Dari Wanita Pembawa Botol Air Minum

Pelajaran Berharga Untukku Dari Wanita Pembawa Botol Air Minum

Suatu hari ketika duduk di sebuah masjid, melintaslah di hadapanku seorang wanita yang ditangannya penuh dengan beberapa botol air minum.
Sosok wanita itu telah menarik perhatianku, mataku tertuju padanya, kulihat diapun sedang mengambil beberapa botol air minum lagi dari beberapa orang tua yang sedang duduk di masjid.

Dalam hatiku terbesit, yang dia bawa sudah banyak, tapi dia masih mau menerimanya. Selang beberapa lama wanita itu melintas lagi di hadapanku, kali ini aku melihat botol yang dibawanya sudah penuh semua dengan air, kulihat dia membagi-bagikan botol itu, ternyata dibagikan kepada pemiliknya. Botol yang dia bawa bukan hanya miliknya, namun milik sebagian saudarinya sesama muslimah. Lalu aku memperhatikan, ternyata jarak antara tempat duduknya ke tempat air itu lumayan jauh, Entah mengapa mata ini tidak lepas memperhatikan sosok wanita itu.

Setelah wanita itu sampai di tempat duduknya, aku mendapatkan kembali pelajaran berharga darinya, ternyata hanya satu botol miliknya, kemudian sambil mengangkat botol miliknya itu dan membawa beberapa gelas plastik wanita itupun berkata kepada saudari-saudarinya sesama muslimah: "Siapa yang haus? Siapa yang haus?"
Sepintas terlihat olehku bahwa yang dilakukan wanita itu suatu perbuatan yang sepele, tapi sungguh ini merupakan kebaikan yang luar biasa. Karena memberi minum merupakan sedekah yang paling utama.

Terdapat dalam hadits mengenai hal itu

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ, إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ, أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الْمَاءُ. فَحَفَرَ بِئْرًا, وَقَالَ: هَذا لِأُمِّ سَعْدٍ

Dari Sa’ad bin Ubadah radhiallahu 'anhu berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat, bolehkah aku bersedekah dengan meniatkan pahala untuknya?” Beliau bersabda: “Ya.” Ia (Sa'ad) bertanya: “Sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Air.” Lalu ia menggali sumur dan mengatakan, “Ini untuk ibunya Sa’ad.” (Hadis hasan dengan beberapa penguatnya, diriwayatkan Abu Daud (1681), Ibnu Majah (3684), Ibnu Hibban (3337), Ibnu Khuzaimah (2497) dan An-Nasai (VI/254).

Ditambah dengan hadits lain, hadis ini tentu tidak asing lagi bagi kita, yaitu tentang kisah seseorang yang memberi minum seekor anjing, yang denganya Allah berterima kasih dan mengampuni dosanya, inipun menunjukkan akan keutamaan orang yang memberi minum.

Dari Abu Hurairah radhiyllahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ «فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »

“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Kebaikan yang diberikan kepada tiap makhluk hidup ada pahalanya. (HR. Al-Bukhari (2363) dan Muslim (2244).

Sungguh apa yang dilakukan wanita Pembawa botol minum itu -Barakallah fiiha- menjadi pelajaran berharga bagiku, karena tidak pernah terpikir olehku melakukan hal itu, yang ternyata dapat mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Sebagai pengingat diri ini: Janganlah kita meremehkan sekecil apapun kebaikan itu. Karena kita tidak tau kebaikan mana dari kita yang Allah terima. Dan semangatlah berbuat kebaikan, di mana kita  berada dan kapan saja.

By: Ari Mardiah Joban
Muroja'ah: Ust. Fuad Hamzah Baraba', Lc

Selasa, 28 Januari 2014

JURUS JITU PELEMBUT HATI

   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَجُلاً شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَسْوَةَ قَلْبِهِ ، فَقَالَ لَهُ : إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ “. (السلسلة الصحيحة) 2/533



Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam akan hatinya yang keras. Maka Rasulullah bersabda: Jika engkau ingin lembut hatinya beri makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim (Silsilah ash-Shahihah 2/533)


Faidah hadits:
1.Yatim adalah anak kecil yang ditinggal mati oleh bapaknya sebelum usia baligh, jika sudah baligh bukan disebut yatim.
2. Hadits ini sebagai petunjuk nabi bagi siapa saja yang mendapati hatinya keras agar memberi makan orang miskin dan menyentuh kepala anak yatim agar hatinya menjadi lembut, karena dengan menyentuh kepala anak yatim kita bisa merasakan keterasingan anak kecil ini dan perasaan takut akan kehilangan orang yang mengasuhnya, sehingga kita berusaha membahagaikannya, memelihara dan membantunya. Dengan melihat keadaan anak kecil ini akan membuat hati kita yang keras menjadi lembut. Demikian pula ketika kita memberi makan orang miskin, kita akan mensyukuri nikmat yang Allah berikan, dengan melihat keadaan orang yang kurang (keadaan ekonominya) daripada kita. Berbeda jika kita melihat orang yang lebih kaya, ini akan membuat kita mengingkari atau menghina nikmat yang telah Allah berikan.


Allah berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Thaha:20)

Rasulullah bersabda:


انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

"Lihatlah kepada orang yang kurang daripada kamu dan jangan kamu melihat kepada orang yang di atas kamu! Karena yang demikian adalah lebih layak untuk kamu tidak menghinakan nikmat Allah kepadamu". (HR. Ahmad)


Wallahu Ta'ala Alam

By: Ari Mardiah Joban
Muroja'ah: Ust.Fuad Hamzah Baraba', Lc

Selasa, 19 November 2013

Sebab-Sebab Kerasnya Hati Dan Bagaimana Cara Terbebas Darinya






::: أسباب قسوة القلب وكيفية التخلص منها ::: 

::: Sebab-Sebab Kerasnya Hati Dan Bagaimana Cara Terbebas Darinya :::

كيف يتخلص الإنسان من قسوة القلب وما هي أسبابه؟

Bagaimana sesorang dapat terbebas dari kerasnya hati, dan apa penyebab (keras)nya (hati)?

أسباب قسوة القلب الذنوب والمعاصي، وكثرة الغفلة، وصحبة الغافلين والفساق، 

Sebab kerasnya hati adalah perbuatan dosa dan maksiat, banyak lalai, berteman dengan orang yang lalai dan fasik.

كل هذه الخلال من أسباب قسوة القلوب، 

Hal-hal ini merupakan penyebab kerasnya hati.

ومن لين القلوب وصفائها وطمأنينتها طاعة الله جل وعلا، وصحبة الأخيار، وحفظ الوقت بالذكر وقراءة القرآن والاستغفار،

Dan sebab lembutnya hati, bening dan tenangannya adalah dengan taat kepada Allah 'Azza Wa Jalla, berteman dengan orang-orang baik (shalih), menjaga waktu dengan berdzikir, membaca al-Quran dan beristighfar,

ومن حفظ وقته بذكر الله وقراءة القرآن، وصحبة الأخيار، والبعد عن صحبة الغافلين والأشرار، يطيب قلبه ويلين، 

Barangsiapa Чαπƍ menjaga waktunya dengan berdzikir kepada Allah, membaca al-Quran, berteman dengan orang-orang baik (shalih) dan menjauhi teman-teman yang lalai dan jahat, maka hatinya akan baik dan lembut. 

قال تعالى: أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِن الْقُلُوبُ.

Allah Ta'ala berfirman: 

"Ketahuilah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)

سماحة الشيخ / عبد العزيز بن باز - رحمه الله تعالى -

Syaikh Abdul 'Aziz bin Baaz -rahimahullah-

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/1760

Rabu, 02 Mei 2012

CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI DAJJAL

 


مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ وَاْلاِسْتِعَاذَةُ بِاللهِ مِنْ فِتْنَتِهِ عَقِبَ التَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ مِنْ كُلِّ صَلاَةٍ.


" Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat dari permulaan surah Al-Kahfi, maka terpelihara dari (gangguan) dajjal." (HR.Muslim 1/555)


 Begitu juga minta perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal setelah tasyahud akhir dari setiap shalat.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

   “Ya Allah, Sesungguhnya aku ber-lindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR. Bukhari 2/102 dan Muslim 1/412, ini lafadz Muslim)



اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ.

  “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah Almasih Dajjal. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati. Ya Allah, Sesungguhnya aku berlin-dung kepadaMu dari perbuatan dosa dan utang.” (HR. Bukhari 1/202 dan Muslim 1/412).





Sumber: Hisnul Muslim

Senin, 13 Juni 2011

Jika Nasehat Anda Ingin Didengar …



Anda ingin nasehat yang anda sampaikan didengar dan disimak? Tidak ada salahnya jika anda meluangkan waktu untuk membaca artikel berikut.

Islam Terbangun Di Atas Nasehat
Agama ini memerintahkan pemeluknya untuk menggalakkan budaya nasehat. Nasehat akan memperbaiki kepribadian seorang yang dahulunya buruk. Nasehat pulalah yang mampu menciptakan persaudaraan yang sejati. Namun, kesemuanya itu barulah dapat terwujud apabila nasehat yang disampaikan dapat membekas dan meresap di dalam jiwa.
Allah ta’ala memerintahkan nabi untuk memberikan nasehat yang dapat mempengaruhi jiwa para pendengarnya,
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا (٦٣)
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka wejangan/nasehat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (An Nisaa: 63).
Imam Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, maksudnya adalah dalam tujuan nasehat diketahui dan membekas di dalam jiwa mereka (Fathul Qadir 1/729; Asy Syamilah).
Nasehat yang Sukses
Sukses dalam memberikan nasehat haruslah memperhatikan beberapa kriteria berikut:
Topik yang sesuai
Nasehat haruslah disampaikan dengan memperhatikan topik yang dibutuhkan oleh para pendengar. Jangan sampai anda memberikan nasehat dengan topik yang tidak mereka butuhkan.
Sebagai permisalan, apabila anda melihat mayoritas manusia lebih memprioritaskan kehidupan dunia daripada mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, maka topic yang seharusnya disampaikan adalah menghasung mereka untuk cinta kepada akhirat dan berlaku zuhud (tidak tamak) terhadap dunia.
Namun, jika seorang menasehati mereka untuk tidak berlebih-lebihan dalam beribadah, sementara mereka belum mampu untuk melaksanakan berbagai ajaran agama yang sifatnya wajib, maka topik nasehat yang disampaikan pada saat itu tidaklah tepat, karena unsur hikmah dalam memilih topik kurang diperhatikan.
Bahasa yang fasih dan runut
Kefasihan sangat dituntut dalam nasehat yang hendak disampaikan. Sahabat pernah mengatakan,
وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا بَعْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ ….
“Selepas shalat Subuh, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat yang sangat menyentuh, hati kami bergetar dan air mata pun berlinang.” (HR. Tirmidzi: 2676. Diabsahkan oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashabih: 165).
Maka seorang pemberi nasehat hendaknya menyampaikan nasehat dengan lafadz yang terbaik, yang paling mampu menyentuh jiwa para pendengar, sehingga merekapun tertarik untuk mendengarnya.
Waktu dan kondisi yang tepat
Waktu yang tepat juga turut berpengaruh. Seorang pemberi nasehat hendaknya memilih momen yang tepat untuk menyampaikan nasehatnya.
Pada hadits yang lalu, dapat kita perhatikan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wejangan kepada para sahabatnya di waktu Subuh. Pada waktu tersebut, tubuh sedang berada dalam kondisi puncak, setelah di waktu malam beristirahat. Demikian pula, pada waktu tersebut, pikiran masih jernih, belum terbebani.
Maka seorang pemberi nasehat harus mampu memperhatikan kondisi orang yang hendak dinasehati, apakah pada saat itu dia siap menerima nasehat ataukah tidak.
Jangan bertele-tele
Nasehat juga janganlah bertele-tele dan panjang sehingga membosankan. Abu Wa-il pernah mengatakan, “Ammarradhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan khutbah kepada kami secara ringkas namun mengena. Ketika selesai, maka kami mengatakan kepada beliau, “Alangkah baiknya jika anda memperpanjang khutbah” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya saya pernah mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya panjangnya shalat seorang dan pendeknya khutbay yang disampaikan olehnya merupakan tanda akan kefakihan dirinya” Maka hendaklah kalian memperpanjang shalat dan memperpendak khutbah.” (HR. Muslim: 869).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan kepada uamtnya untuk tidak bertele-tele dan berlama-lama dalam menyampaikan nasehat karena hal itu akan menyebabkan pendengar bosan.
Karakter Sang Pemberi Nasehat
Materi yang bagus memang turut berpengaruh terhadap suksesnya nasehat, namun sang pemberi nasehat pun harus menghiasi dirinya dengan beberapa hal berikut:
Yakin akan apa yang diucapkan
Pemberi nasehat merupakan orang yang pertama kali harus meyakini akan apa yang akan diucapkan dalam nasehatnya, dialah yang pertama kali harus terpengaruh terhadap nasehat yang hendak disampaikan.
Ammar bin Dzar rahimahullah pernah ditanya oleh anaknya, “Mengapa tatkala orang lain berbicara, tidak ada satupun yang menangis. Namun, ketika engkau berbicara, wahai ayahku, kami mendengar tangisan dimana-mana?” Maka Ammar menjawab, “Wahai anakku, nasehat yang tulus tidaklah sama dengan nasehat yang direkayasa.” (Hilyatul Auliya 5/111; Ihya Ulumiddin 4/187; Asy Syamilah).
Anda dapat memperhatikan apabila nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada para sahabat. Beliau menyampaikan nasehat dengan serius, dengan suara yang tinggi sedang mata beliau memerah, seakan-akan saat itu beliau sedang mengomandoi pasukan. Ini menunjukkan keyakinan beliau akan kandungan yang terdapat dalam nasehat beliau.
Oleh karena itu, sahabat Irbadh radhiallahu ‘anhu pun menggambarkan bahwa nasehat beliau merupakan nasehat yang menggetarkan jiwa dan mampu membuat air mata ini berlinang.
Hati yang Bebas Penyakit
Tulusnya nasehat merupakan buah dari hati yang bersih dari penyakit. Seorang yang memiliki hati yang berpenyakit, maka dapat dipastikan bahwa nasehat yang disampaikannya tidaklah mampu menghunjam dalam hati pendengarnya. Tengok kembali perkataan Ammar bin Dzar rahimahullah di atas! Apabila hati yang dipenuhi penyakit ini diiringi dengan akhak yang buruk, maka nasehat yang diucapkan pun tentu hanya dianggap sebagai angin lalu.
Teladan yang Baik
Seorang pemberi nasehat haruslah menjadi qudwah (teladan) dalam perkataan dan perbuatan, karena orang yang mendengar nasehatnya mesti akan memperhatikan gerak-geriknya. Jika ternyata orang yang senantiasa memberikan nasehat kepada mereka justru melanggar wejangan yang diberikan, maka mereka akan meremehkannya dan akan berpaling, tidak menghiraukan dirinya dan nasehatnya lagi. Betapa banyak kita menjumpai da’i-’da’i yang tidak mampu mendorong dirinya untuk menjadi teladan yang baik bagi para mad’u (objek dakwah)-nya.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sumber Artikel www.muslim.or.id