Rabu, 09 Maret 2011

Keberadaan Dajjal


PERTANYAAN :
Apakah benar Dajjal sudah turun di Khurasan India? Syukran.
Abu Omar, 08193292xxxx
JAWABAN :
Dajjal, secara bahasa artinya pemalsu, sangat pendusta. Oleh karena itu, Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam menamakan orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah beliau dengan menyebutnya Dajjal, karena mereka adalah para pendusta besar.
Beliau shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda :
hadits
Tidak akan datang kiamat,
sehingga dibangkitkan dajjal-dajjal, pembohong -pembohong besar,
yang jumlahnya mendekati tigapuluh orang,
masing-masing mengaku sebagai utusan Allâh. [1]


Tetapi kemudian kata “Dajjal” menjadi istilah bagi seorang manusia pendusta, buta sebelah matanya, mengaku sebagai Tuhan, yang akan muncul di akhir zaman mendekati hari Kiamat. Karena besarnya ujian dan musibah dengan kedatangan Dajjal ini, maka semua nabi telah memperingatkan tentang kedatangannya.
hadits
Dari Anas bin Malik radhiyallâhu'anhu, dia berkata :
'Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam telah bersabda :
“Tiada seorang nabi pun,
melainkan dia memberi peringatan (yangmenakutkan)
kepada umatnya tentang pendusta yang buta sebelah matanya.
Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya,
dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) kamu tidak buta sebelah mata-Nya.
Dan ditulis di antara dua matanya (Dajjal) Kaf, Fa` dan Ra (Kafir)”.
(HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain)


Adapun pertanyaan saudara, apakah Dajjal ini sudah muncul di Khurasan, India? Mungkin yang Anda maksudkan adalah Begawan Sri Baba dari India yang mengaku sebagai tuhan.
Sepanjang pengetahuan kami, Dajjal yang diperingatkan tersebut sekarang ini belum muncul. Karena Dajjal memiliki ciri-ciri yang telah diberitakan oleh Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam, dan kebanyakan ciri-ciri tersebut tidak ada pada orang India tersebut. Di antara ciri-ciri Dajjal adalah sebagai berikut : [2]
  1. Seorang laki-laki yang besar tubuhnya, merah (kulitnya), keriting rambutnya, buta sebelah matanya; matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol, mirip seperti Ibnul Qathan seorang laki-laki dari Khuza’ah. (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
  2. Buta matanya sebelah kanan; matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol. (HR Bukhari, Muslim)
  3. Syab (muda usia, 30-50 tahun), sangat keriting rambutnya, matanya seolah-olah buah anggur yang menonjol, mirip seperti Abdul ‘Uzza bin Qathan. (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
  4. Seorang laki-laki, pendek, cara berjalannya tidak normal, keriting, buta sebelah matanya, satu matanya rata, tidak menonjol dan tidak masuk. (HR Abu Dawud, Shahihul-Jami’ush-Shaghir, no. 2455)
  5. Buta sebelah matanya, menonjol dahinya, luas atas dadanya, membungkuk. (HR Ahmad)
  6. Banyak rambutnya. (HR Muslim)
  7. Di antara dua matanya tertulis “kafir”, atau huruf kaf, fa`, ra` yang bisa dibaca oleh semua orang beriman, bisa baca tulis ataupun yang buta huruf. (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
  8. Orangnya sangat besar. (HR Muslim)
  9. Makhluk yang paling besar (fitnah/tipu daya/bencana yang ditimbulkannya) (HR Muslim)
  10. Tidak dilahirkan. (HR Muslim)
  11. Muncul dari arah timur, yaitu Khurasan. (HR Tirmidzi)

    Khurasan adalah kota yang luas zaman dahulu, awal batasnya dekat Iraq, akhir batasnya dekat India. Sekarang meliputi beberapa kota dan masuk ke beberapa negara, yaitu Iran Utara (di antaranya terkenal dengan Naisabur), Afghanistan Utara (di antaranya terkenal dengan Harah dan Balkh), daerah-daerah Turkmania (dahulu pernah masuk Uni Soviet, di antaranya terkenal dengan Marw). Dan desa-desa sekitarnya, sebelum sungai Jaihun. [3]

    Dari sini kita mengetahui bahwa India tidak masuk Khurasan, bahkan nampak bahwa mayoritas Khurasan masuk wilayah negara Iran. Wallâhu a’lam.
  12. Muncul dari tempat bernama Yahudiyah, kota Ashbahan, dengan 70 ribu orang Yahudi. (HR Ahmad, Fathur Rabbani 24/73).

    Ashbahan adalah kota yang dahulu termasuk Khurasan. Sekarang termasuk wilayah negara Iran.
  13. Dia muncul dan tinggal di bumi selama 40 hari. Sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan sisanya seperti hari-hari biasa. (HR Muslim).

    Adapun Sri Baba sekarang umurnya sudah 80 tahun, dan hari-harinya biasa.
Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat dan menjadi jelas bagi kita semua.
[1]
HR Bukhari (no. 3609), kitab al Manaqib, Bab ‘Alamatan-Nubuwwah; 
Muslim, kitab al Fitan wa Asyrathus-Sa’ah.
[2]
Lihat kitab Asyrathus-Sa’ah, halaman 278-315,
 karya Syaikh Yusuf bin ‘Abdullah bin Yusuf al Wabil rahimahullâh.
[3]
Mu’jamul Buldan, Bab : Huruf Kha‘ dan Ra‘; Asyrathus-Sa’ah, hlm. 308;
 Kamus al Munjid.


Sumber: http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=234

Tabi’in Terbaik “Uwais Al-Qorni”



Uwais bin ‘Amir Al-Qoroni adalah tabiin terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim[1] dari Umar bin Al-Khotthob ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:
 إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِيْنَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ وَلَهُ وَالِدَةٌ 
((Sebaik-baik tabi’in adalah seorang yang disebut dengan Uwais dan ia memiliki seorang ibu… )). Berkata An-Nawawi, “Ini jelas menunjukan bahwa Uwais adalah tabi’in terbaik, mungkin saja dikatakan “Imam Ahmad dan para imam yang lainnya mengatakan bahwa Sa’id bin Al-Musayyib adalah tabi’in terbaik”, maka jawabannya, maksud mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib adalah tabi’in terbaik dalam sisi ilmu syari’at seperti tafsir , hadits, fiqih, dan yang semisalnya dan bukan pada keafdholan di sisi Allah”[2]

Berikut ini kami menyampaikan sebuah hadits yang berkaitan dengan kisah Uwais Al-Qoroni yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya[3]. Namun agar kisahnya lebih jelas dan gamblang maka dalam riwayat Imam Muslim ini kami menyelipkan riwayat-riwayat yang lain yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadroknya, Abu Ya’la dan Ibnul Mubarok dalam kedua musnad mereka.
Dari Usair bin Jabir berkata, “Umar bin Al-Khotthob, jika datang kepadanya Amdad dari negeri Yaman maka Umar bertanya mereka, “Apakah ada diantara kalian Uwais bin ‘Amir ?”, hingga akhirnya ia bertemu dengan Uwais dan berkata kepadanya, “Apakah engkau adalah Uwais bin ‘Amir?”, ia berkata, “Iya”. Umar berkata, “Apakah engkau berasal dari Murod[4], kemudian dari Qoron?”, ia berkata, “Benar”. Umar berkata, “Engkau dahulu terkena penyakit baros (albino) kemudian engkau sembuh kecuali seukuran dirham?” ia berkata, “Benar”. ((Pada riwayat Abu Ya’la[5]: Uwais berkata, “Dari mana engkau tahu wahai Amirul mukminin?, demi Allah tidak seorang manusiapun yang mengetahui hal ini.” Umar berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami bahwasanya akan ada diantara tabi’in seorang pria yang disebut Uwais bin ‘Amir yang terkena penyakit putih (albino) lalu ia berdoa kepada Allah agar menghilangkan penyakit putih tersebut darinya, ia berkata (dalam doanya), “Ya Allah sisakanlah (penyakit putihku) di tubuhku sehingga aku bisa (selalu) mengingat nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku”…”)) Umar berkata, “Engkau memiliki ibu?”, ia menjawab, “Iya”, Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama pasukan perang penolong dari penduduk Yaman dari Murod dari kabilah Qoron, ia pernah terkena penyakit albino kemudian sembuh kecuali sebesar ukuran dirham, ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepada ibunya itu, seandainya ia (berdoa kepada Allah dengan bersumpah dengan nama Allah) maka Allah akan mengabulkan permintaannya. Maka jika engkau mampu untuk agar ia memohonkan ampunan kepada Allah untukmu maka lakukanlah)), oleh karenanya mohonlah kepada Allah ampunan untukku!” ((Dalam suatu riwayat Al-Hakim[6] : “Engkau yang lebih berhak untuk memohon ampunan kepada Allah untukku karena engkau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”)), lalu Uwais pun memohon kepada Allah ampunan untuk Umar. Lalu Umar bertanya kepadanya, “Kemanakah engkau hendak pergi?”, ia berkata, “Ke Kufah (Irak)”, Umar berkata, “Maukah aku tuliskan sesuatu kepada pegawaiku di Kufah untuk kepentinganmu?”, ia berkata, “Aku berada diantara orang-orang yang lemah lebih aku sukai”.

((Dalam riwayat Al-Hakim[7] : Kemudian Uwais pun mendatangi Kufah, kami berkumpul dalam halaqoh lalu kami mengingat Allah, dan Uwais ikut duduk bersama kami, jika ia mengingatkan para hadirin (yang duduk dalam halaqoh tentang akhirat) maka nasehatnya sangat mengena hati kami tidak sebagaimana nasehat orang lain. Suatu hari aku (yaitu Usair bin Jabir) tidak melihatnya maka aku bertanya kepada teman-teman duduk (halaqoh) kami, “Apakah yang sedang dikerjakan oleh orang yang (biasa) duduk dengan kita, mungkin saja ia sakit?”, salah seorang berkata, “Orang yang mana?”, aku berkata, “Orang itu adalah Uwais Al-Qoroni”, lalu aku ditunjukan dimana tepat tinggalnya, maka akupun mendatanginya dan berkata, “Semoga Allah merahmatimu, dimanakah engkau?, kenapa engkau meninggalkan kami?”, ia berkata, “Aku tidak memiliki rida’ (selendang untuk menutup tubuh bagian atas), itulah yang menyebabkan aku tidak menemui kalian.”, maka akupun melemparkan rida’ku kepadanya (untuk kuberikan kepadanya), namun ia melemparkan kembali rida’ tersebut kepadaku, lalu akupun mendiamkannya beberapa saat lalu ia berkata, “Jika aku mengambil rida’mu ini kemudian aku memakainya dan kaumku melihatku maka mereka akan berkata, “Lihatlah orang yang cari muka ini (riya’) tidaklah ia bersama orang ini hingga ia menipu orang tersebut atau ia mengambil rida’ orang itu”. Aku terus bersamanya hingga iapun mengambil rida’ku, lalu aku berkata kepadanya, “Keluarlah hingga aku mendengar apa yang akan mereka katakan!”. Maka iapun memakai rida’ pemberianku lalu kami keluar bersama. Lalu kami melewati kaumnya yang sedang bermasjlis (sedang berkumpul dan duduk-duduk) maka merekapun berkata, “Lihatlah kepada orang yang tukang cari muka ini, tidaklah ia bersama orang itu hingga ia menipu orang itu atau mengambil rida’ orang itu”. Akupun menemui mereka dan aku berkata, “Tidak malukah kalian, kenapa kalian menggangunya (menyakitinya)?, demi Allah aku telah menawarkannya untuk mengambil rida’ku namun ia menolaknya!”))

Pada tahun depannya datang seseorang dari pemuka mereka[8] dan ia bertemu dengan Umar, lalu Umar bertanya kepadanya tentang kabar Uwais, orang itu berkata, “Aku meninggalkannya dalam keadaan miskin dan sedikit harta” ((Dalam riwayat Ibnul Mubarok[9] : orang itu berkata “Ia adalah orang yang jadi bahan ejekan di kalangan kami, ia dipanggil Uwais”)). Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir bersama pasukan perang penolong dari penduduk Yaman dari Murod dari kabilah Qoron, ia pernah terkena penyakit albino kemudian sembuh kecuali sebesar ukuran dirham, ia memiliki seorang ibu yang ia berbakti kepada ibunya itu, seandainya ia (berdoa kepada Allah dengan) bersumpah dengan nama Allah maka Allah akan mengabulkan permintaannya. Maka jika engkau mampu untuk agar ia memohonkan ampunan kepada Allah untukmu maka lakukanlah)), maka orang itupun mendatangi Uwais dan berkata kepadanya, “:Mohonlah ampunan kepada Allah untukku”, Uwais berkata, “Engkau lebih baru saja selesai safar dalam rangka kebaikan maka engkaulah yang memohon ampunan kepada Allah untukku”, orang itu berkata, “:Mohonlah ampunan kepada Allah untukku”, Uwais berkata, “Engkau lebih baru saja selesai safar dalam rangka kebaikan maka engkaulah yang memohon ampunan kepada Allah untukku”, Uwais berkata, “Engkau bertemu dengan Umar?”, Orang itu menjawab, “Iya”. ((Dalam riwayat Al-Hakim[10] : Uwais berkata, “Aku tidak akan memohonkan ampunan kepada Allah untukmu hingga engkau melakukan untukku tiga perkara”, ia berkata, “Apa itu?”, Uwais berkata, “Janganlah kau ganggu aku lagi setelah ini, janganlah engkau memberitahu seorangpun apa yang telah dikabarkan Umar kepadamu” dan Usair (perowi) lupa yang ketiga)) Maka Uwais pun memohon ampunan bagi orang itu. Lalu orang-orangpun mengerti apa yang terjadi lalu iapun pergi[11]. Usair berkata, “Dan baju Uwais adalah burdah (kain yang bagus yang merupakan pemberian si Usair) setiap ada orang yang melihatnya ia berkata, “Darimanakah Uwais memperoleh burdah itu?”[12]

Minggu, 06 Maret 2011

8 MANFAAT MEMBACA


Sungguh mengherankan mendengarkan kaum muslimin mengatakan bahwa mereka bosan membaca! Padahal membaca adalah salah satu hobi terbaik yang dimiliki oleh seseorang. Namun sungguh menyedihkan ketika mengetahui bahwa kebanyakan dari kita tidaklah diperkenalkan dengan buku-buku yang menakjubkan dunia. Ini adalah beberapa alasan bagi kita untuk memulai kebiasaan ini… sebelum Anda tertinggal di belakang dalam segala hal.
1. Membaca merupakan proses mental secara aktif. Tidak seperti duduk di depan sebuah kotak idiot (TV, Plasystation, dll), membaca membuat Anda menggunakan otak Anda. Ketika membaca, Anda akan dipaksa untuk memikirkan banyak hal yang Anda belum mengetahuinya. Dalam proses ini, Anda akan menggunakan sel abu-abu otak Anda untuk berfikir dan menjadi semakin pintar.
2. Membaca akan meningkatkan kosakata Anda. Anda dapat belajar bagaimana mengira suatu makna dari suatu kata (yang belum Anda ketahui) dengan membaca konteks dari kata-kata lainnya di sebuah kalimat. Buku, terutama yang menantang, akan menampakkan kepada Anda begitu banyak kata yang mungkin sebaliknya belum Anda ketahui
3. Membaca akan meningkatkan konsentrasi dan fokus. Anda perlu untuk bisa fokus terhadap buku yang sedang Anda baca untuk waktu yang cukup lama. Tidak seperti majalah, internet atau email yang hanya berisi potongan kecil informasi, buku akan menceritakan keseluruhan cerita. Oleh sebab Anda perlu berkonsentrasi untuk membaca. Seperti otot, Anda akan menjadi lebih baik di dalam berkonsentrasi.
Membangun kepercayaan diri. Semakin banyak yang Anda baca, semakin banyak pengetahuan yang Anda dapatkan. Dengan bertambahnya pengetahuan, akan semakin membangun kepercayaan diri. Jadi hal ini merupakan reaksi berantai. Karena Anda adalah seorang pembaca yang baik, orang-orang akan mencari Anda untuk mencari suatu jawaban. Perasaan Anda terhadap diri Anda sendiri akan semakin baik. [Namun ingat, ikhlas tetap merupakan jalan untuk mencapai kesuksesan, dan berhati-hatilah dari sikap merasa bangga diri. Bersyukurlah selalu kepada Alloh atas secuil pengetahuan yang Anda miliki].
Meningkatkan memori. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa jika Anda tidak menggunakan memori anda, Anda bisa kehilangannya. Teka-teki silang adalah salah satu contoh permainan kata yang dapat mencegah penyakit Alzheimer. Membaca, walaupun bukan sebuah permainan, akan membantu Anda meregangkan “otot” memori Anda dengan cara yang sama. Membaca itu memerlukan ingatan terhadap detail, fakta dan gambar pada suatu literatur, alur, tema atau karakter cerita.
Meningkatkan kedisplinan. Mencari waktu untuk membaca adalah sesuatu yang kita sudah mengetahuinya untuk dilakukan. Namun, siapa yang membuat jadwal untuk membaca buku setiap harinya? Hanya sedikit sekali. Karena itulah, menambahkan aktivitas membaca buku ke dalam jadwal harian Anda dan berpegang dengan jadwal tersebut akan meningkatkan kedisiplinan.
Meningkatkan kretivitas. Membaca tentang keanekaragaman kehidupan dan membuka diri Anda terhadap ide dan informasi baru akan membantu perkembangan sisi kreatif otak Anda, karena otak Anda akan menyerap inovasi tersebut ke dalam proses berfikir Anda.
Mengurangi kebosanan. Salah satu kebiasaan yang saya miliki adalah, apabila saya merasa bosan, maka saya akan mengambil buku dan mulai membacanya. Apa yang saya temukan dengan berpegang kepada kebiasaan ini adalah, saya menjadi semakin tertarik dengan suatu bahasan buku dan saya sudah tidak bosan lagi. Maksud saya, jika Anda merasa bosan, Anda akan merasa lebih baik dengan membaca buku yang bagus, bukan? Jika Anda ingin memecahkan rasa malas yang monoton, dan kehidupan yang tidak kreatif dan membosankan, maka pergi dan ambillah satu buku yang menarik. Bukalah halaman-halamannya dan jelajahi dunia baru yang penuh dengan informasi dan kecerdasan.
Terima kasih telah membaca.
[Diterjemahkan dari booklet di http://calltoislam.com]
Sumber: http://rachdie.blogdetik.com/2011/02/05/8-manfaat-membaca/

Jumat, 04 Maret 2011

KIAT MENCAPAI KEKHUSYU’AN SHOLAT


الخشوع

PERTAMA: Memperhatikan hal-hal yang dapat mendatangkan  kekhusyu’an sholat.

1.   Bersiap diri sepenuhnya untuk shalat.
  2.   Tuma’ninah.
  3.   Mengingat mati disaat shalat.
  4.   Menghayati makna bacaan shalat.
  5.   Membaca surat sambil berhenti pada setiap  ayat.
  6.   Meletakkan sutroh (tabir pembatas).
  7.   Melihat kearah tempat sujud.
  8.   Meluruskan shaf shalat.

KEDUA : Berupaya menepis penghalang kekhusyu’an shalat

1.    Menghilangkan sesuatu yang mengganggu di tempat shalat
2.    Menghindari shalat didekat makanan
3.    Tidak  menahan kencing dan buang air besar
4.    Menghindari shalat dalam keadaan mengantuk
5.    Jangan shalat dibelakang orang yang ngobrol/tidur


Rangkuman materi kajian yang disampaikan oleh: Ari Mardiah Joban 


Selasa, 01 Maret 2011

Waspadalah Tipu Daya Syaitan

Oleh: Ari Mardiah Joban
      Siapa syaitan itu? apakah dia itu haqiqi atau maknawi?!  atau dia adalah pemikiran yang buruk dan yang membisikan kejahatan seperti yang disangkakan oleh sebagaian orang? atau syaitan hanyalah ibarat sebuah kejahatan?!
Apa pendapat yang benar tentang masalah ini?!
Yang benar adalah Syaitan termasuk dari golongan jin sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا
dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Ada, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (QS. al-Kahfi:50).
    Hendaknya kita percaya akan keberadaan jin sebagaimana kita percaya akan keberadaan manusia, dan syaitan itu dari golongan jin sebagaimana disebutkan pada firman Allah diatas. Syaitan akan selalu bersama manusia. Dan setiap manusia ada syaitan yang menyertainya. Adapun dalil yang menerangkan hal itu adalah sabda Nabi Shalallahu a’laihi wasallam:

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:{ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الْجِنِّ قَالُوا: وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَإِيَّايَ ,إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ } ) رواه مسلم 2814)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu a’nhu berkata: Rasulullah Shalallahu a’laihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin." Mereka bertanya: “Apakah engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: "Aku juga termasuk, hanya saja Allah membantuku mengalahkannya lalu ia masuk Islam. Ia hanya memerintahkan kebaikan padaku." (HR. Muslim no. 2814).
   Yang dimaksud pendamping di sini adalah yang terus-menerus bersamanya. Pendamping dari kalangan jin ini terus-menerus menyertai seorang muslim untuk menyesatkan dan menyimpangkannya dari jalan yang lurus. Dan dia selalu membisikkan kejahatan kepada manusia, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangkan didalam surat
an-Naas:

 قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

1.     Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2.     Raja manusia.
3.     Sembahan manusia.
4.     Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5.     yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6.     dari (golongan) jin dan manusia.

      Dalam surat ini dijelaskan, yang selalu memberikan was-was (berbagai kerancuan) dalam hati manusia adalah setan dari kalangan jin dan juga manusia. dengan demikian ayat ini menunjukan bahwa syaitan tidak hanya dari kalangan jin semata melainkan juga dari kalangan manusia.
 Sebagaimana hal ini dapat dilihat dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112).

    Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu a’laihi wasallam mengajarkan kita untuk selalu membaca surat an-Naas pada setiap selesai sholat, dzikir pagi dan petang dan ketika menjelang tidur agar kita terhindar dari bisikan syaitan.
     Jika kita mengkaji al-Quran maka akan kita dapati banyak sekali ayat al-Quran yang menerangkan bahwa syaitan adalah musuh manusia yang nyata, diantaranya firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“ dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)
dan juga firmannya:
وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“ dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. az-Zukhruf: 62)
    Dan masih banyak lagi ayat yang memperingatkan kita untuk berpaling dari syaitan, karena syaitan akan terus berupaya dan dia menggunakan segala macam cara yang dia mampu untuk menyesatkan manusia hingga hari kiamat. hal ini telah diterangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firmannya:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ () إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
      Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis [1] di antara mereka".
[1] Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala
    Setelah kita mengetahui dengan jelas bahwa syaitan adalah musuh yang nyata bagi kita, tentunya kita harus berhati-hati dan waspada darinya. Dan agar kita bisa terhindar dari tipu daya syaitan sepatutnyalah kita mengetahui tempat masuknya syaitan dalam diri kita, sehingga kita dan menepisnya dan berusaha semaksimal mungkin untuk menghalanginya. adapun tempat masuknya syaitan pada diri manusia banyak caranya, namun dalam tulisan ini saya berusaha menyebutkan beberapa tempat yang biasa dilalui syaitan untuk menyesatkan manusia. diantaranya:
1.     Syaitan masuk melalui adu domba antara kaum muslimin dan melalui prasangka buruk.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasanya Rasulullah Shalallahu a’laihi wasallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ ( رواه مسلم 2812)
Sesungguhnya syaitan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di jazirah arab, akan tetapi dia mengadu domba di antara mereka.” (HR. Muslim no. 2812)
 Syaitan akan selalu mencari celah agar bisa menyesatkan manusia, sekecil apapun celahnya, dia akan berusaha menerobosnya, sampai jika dia telah berputus asa, maka dia akan mengadu domba diantara kaum muslimin. 
    Di antara bentuknya adalah mereka melemparkan fitnah dan permusuhan di tengah-tengah manusia, karena hal itu bisa menyebabkan umat manusia saling membenci, menjauhi, memutuskan hubungan, bahkan sampai berperang. Karenanya wajib atas setiap muslim untuk waspada dari semua fitnah yang dilemparkan oleh syaitan ke tengah-tengah kaum muslimin, karena hal itu bisa memecah belah dan melemahkan persatuan mereka.
   Hendaknya Kaum muslimin mengingat bahwa tujuan terbesar dari Iblis (syaitan) adalah agar umat manusia melakukan kekafiran dan kesyirikan kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi jika mereka tidak sanggup karena banyaknya ilmu agama yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, maka langkah terakhir mereka guna untuk menghancurkan kaum muslimin adalah dengan menebarkan kebencian dan adu domba di antara mereka.
lalu selanjutnya yang akan dilakukan syaitan yaitu menimbulkan prasangka yang buruk pada hati setiap kaum muslimin. hal ini sebagaimana yang di gambarkan Rasulullah Shalallahu a’laihi wasallam  dalam hadits shahih dari Anas mengenai kisah Shofiyah yang mengunjungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan saat itu beliau sedang i’tikaf. Ketika itu beliau keluar bersama Shofiyah karena waktu itu malam hari untuk menemaninya ke rumahnya. Di tengah jalan, Nabi ditemui oleh dua orang Anshor. Ketika mereka berdua melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka lantas berjalan dengan cepatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda:

« عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ » . فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا - أَوْ قَالَ - شَيْئًا »
“Hendaklah kalian pelan-pelan saja jalannya. Ini adalah Shofiyah binti Huyay (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Mereka berdua pun lantas mengatakan, “Subhanallah (Maha Suci Allah), wahai Rasulullah.”  Beliau lantas bersabda, “Sesungguhnya syaitan mengalir dalam diri manusia di tempat mengalirnya darah. Aku sungguh khawatir jika kejelekan telah merasuk ke dalam hati-hati kalian – atau hati kalian berkata sesuatu -.” (HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175, dari Shofiyah binti Huyay)
2.     Syaitan masuk menghiasi perbuatan bid’ah pada diri manusia.
      Syaitan akan masuk melalui jalan ini dan berkata kepada manusia bahwa orang-orang pada zaman sekarang telah jauh dari agamanya maka hendaknya kita menambah amalan atau ibadah(yang tidak ada syariatnya), agar mereka kembali kepada agama, dan syaitan akan terus mengatakan tambahkanlah amalan, karena dengan banyaknya amalan adalah sebuah kebaikan. Padahal amalan ibadah tidak hanya tergantung dari banyak atau tidaknya, amalan seseorang baru akan diterima jika terpenuhi dua syarat:
1. Ikhlas karena Allah Ta’ala
2. Ittiba’ yaitu: Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.
              Jika seseorang menambah amalan atau mengada-ada dalam beribadah ini adalah perbuatan bid’ah, sedang perbuatan bid’ah itu akan menjerumuskan orang kedalam kesesatan yang pada akhirnya akan di jerumuskan kedalam api neraka. Dan Syaitan akan selalu menghiasi jalan ini dan menganggap hal ini merupakan suatu kebaikan hingga manusia kedalam kesesatan.
3.     Syaitan akan masuk melalu pintu kesempurnaan
     Syaitan akan menipu manusia dengan membuatnya merasa sempurna, dan merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. sehingga akan muncul rasa sombong dan berbangga diri serta merendahkan orang lain
4.     Syaitan akan masuk melalu pintu ketakutan
Dalam hal ini syaitan akan memberikan rasa takut kepada manusia dengan dua cara;
1. Takut dari wali-wali syaitan
    Syaitan akan memberi rasa takut kepada manusia dari bala tentaranya, sehingga syaitan berkata: Hati-hatilah dari mereka, mereka mempunyai kekuatan yang besar.   hal ini telah diterangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firmannya:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
  “ Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. ” (QS. Ali-Imran: 175).

2. Takut dari kemiskinan
  Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ
  “ syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). ” (QS. al-Baqarah: 268)
    Syaitan akan menghiasi rasa takut akan kemiskinan dalam hati manusia sehingga manusia menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan harta, tanpa menghiraukan jalan yang ditempuh padahal dia seorang muslim. Dalam hal ini syaitan akan tertawa jika mendapati seorang muslim melakukan hal tersebut, padahal disisi lain Allah telah menjelaskan kepada kita dalam firmannya:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا () وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“ Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. at-Thalaq: 2-3).
    Maka yang seharusnya dilakukan seorang muslim adalah berusaha dengan jalan yang benar dan halal kemudian bertawakal kepada-Nya, insya Allah, Allah akan memberi rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka sesuai janjiNya.
v Adapun sarana yang dapat membantu syaitan dalam melakukan tugasnya yaitu:
1. Kebodohan
2. Hawa nafsu dan lemahnya keikhlasan dan lemahnya agama.
3. lalai dalam memperhatikan tempat masuknya syaitan.
v Adapun penghalangnya yaitu:
1. keimanan kepada Allah Ta’ala
2. Menuntut ilmu syar’i yang benar
3. Ikhlas dalam beragama
4. Berdzikir kepada Allah Ta’ala serta selalu meminta perlindungan dari syaitan yang terkutuk.
  Mudah-mudahan kita semua dapat terhindar dari tipu daya syaitan. Wallahu Ta’ala  A’lam.

Jumat, 25 Februari 2011

[Ebook] Hukum cadar antara yg mewajibkan dan yang tidak



Pertama, wanita menutup wajahnya bukanlah sesuatu yang aneh di zaman kenabian. Karena hal itu dilakukan olehummahatul mukminin (para istri Rasulullah) dan sebagian para wanita sahabat. Sehingga merupakan sesuatu yang disyariatkan dan keutamaan.


Kedua, membuka wajah juga dilakukan oleh sebagian sahabiah. Bahkan hingga akhir masa kehidupan Nabishallallahu ‘alaihin wa sallam, dan berlanjut pada perbuatan wanita-wanita pada zaman setelahnya.
Ketiga, seorang muslim tidak boleh merendahkan wanita yang menutup wajahnya dan tidak boleh menganggapnya berlebihan.
Keempat, dalil-dalil yang disebutkan para ulama yang mewajibkan cadar begitu kuat; menunjukkan kewajiban wanita untuk berhijab (menutupi diri dari laki-laki) dan berjilbab serta menutupi perhiasannya secara umum. Dalil-dalil yang disebutkan para ulama yang tidak mewajibkan cadar begitu kuat; menunjukkan bahwa wajah dan telapak tangan wanita bukan aurat yang harus ditutup.
Inilah jawaban kami tentang masalah cadar bagi wanita. Mudah-mudahan kaum muslimin dapat saling memahami permasalahan ini dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bishshawwab.
***
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Sumber: Kumpulan tulisan ustadz Kholid Syamhudi
Sumber: http://muslimah.or.id/fiqh-muslimah/hukum-cadar-kesimpulan-antara-2-pendapat-ulama-5.html





Wallahu'alam
Attachment: cadar.zip